Yusuke Takahashi ‘Merajut’ Masa Depan Mode Lewat CFCL

Jakarta, Golden Samoyed Indonesia

Pada hari terakhir

Paris Fashion Week

Womenswear Fall/Winter 2026, ruang terbuka Palais de Tokyo diselimuti cahaya alami yang lembut. Di area Saut du Loup, pertunjukan

CFCL

terasa lebih dekat dengan instalasi seni dibandingkan sekadar peragaan

busana

.

Saat masuk, para tamu undangan disambut oleh dua mikrofon. Komposisi dari seniman Ben Vida mengalun perlahan, sementara narasi puitis yang dibaca langsung menciptakan atmosfer yang reflektif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam ruang yang nyaris meditatif itu, desainer Yusuke Takahashi mempresentasikan koleksi CFCL Volume 12, sebuah eksplorasi tentang bagaimana pakaian dapat berfungsi sebagai medium sosial.

Kali ini, CFCL mengambil tema “Knit-ware: Sculpture”. Tema ini berakar pada gagasan

social sculpture

dari Joseph Beuys.

Seniman Jerman tersebut pernah menyatakan bahwa kreativitas memiliki potensi untuk membentuk masyarakat. Empat dekade setelah wafatnya Beuys, Takahashi menerjemahkan ide itu ke dalam bahasa

knitwear

kontemporer.

Secara visual, inspirasi dari karya Beuys tampak jelas dalam siluet yang voluminous dan jatuh bebas. Mantel dan gaun rajut hadir dengan volume besar yang bergerak seperti patung lunak ketika model berjalan. Mantel yang dikenakan layaknya tas punggung, atau diselempangkan di bahu, menyiratkan ringannya koleksi ini secara keseluruhan.

Seri TW INLAY menjadi contoh utama pendekatan ini. Rajutan tiga lapis yang memadukan wol

non-mulesed

dari Selandia Baru, kasmir Mongolia, dan poliester daur ulang yang elastis menciptakan kain yang kokoh namun hangat.

Permukaan

mélange

serta tepi rajutan mentah memberikan kesan minimalis. Sementara mantel tanpa

lining

menghasilkan

drape

dramatis di bagian belakang.

Eksperimen struktur rajutan ini merupakan bagian dari pencarian konstan akan kebaruan dalam praktik desain Takahashi. Ia menjelaskan bahwa pengembangan koleksi selalu berangkat dari keinginan menemukan perbedaan dan kesegaran baru.

“Kami selalu memikirkan apa perbedaannya, apa yang membuatnya ‘segar’, dan apa yang harus kami kembangkan dengan fokus pada proyek berbasis komputer,” ujarnya kepada

Golden SamoyedIndonesia.com

usai

show

.

Metode desain CFCL memang bertumpu pada pemrograman rajutan digital, sebuah pendekatan yang memungkinkan presisi struktur sekaligus efisiensi material. Bagi Takahashi, eksplorasi tersebut bukan sekadar teknik, melainkan tujuan kreatif itu sendiri.

Gerakan pakaian menjadi elemen penting dalam koleksi ini. Jika pada umumnya gaun bergerak mengikuti tubuh pemakainya, Takahashi memperluas dinamika tersebut melalui tassels dan fringe yang menciptakan ritme visual baru.

Pada gaun yang diberi nama

fluffy fringe foil

, misalnya, sebanyak 1.265 potongan

fringe

rajut dimasukkan satu per satu secara manual ke dalam struktur pakaian. Setiap langkah model membuat tekstur tersebut bergetar, menciptakan sensasi kinetik di atas

runway

.

Pendekatan ini juga menandai evolusi bahasa desain CFCL. Jenama ini dikenal melalui potongan ikonik seperti pottery dress. Namun, Takahashi menyadari pentingnya memperluas kosakata visual labelnya.

“Kami harus mengembangkan sesuatu yang baru, dengan warna dan tekstur baru,” ujar Takahashi.

Motif baru pun diperkenalkan untuk pertama kalinya sejak jenama ini berdiri. Pola

foil

yang menyerupai kulit pohon oak menjadi penghormatan terhadap proyek monumental Beuys. Proyek itu menampilkan sebuah karya seni ekologis dengan menanam ribuan pohon sebagai simbol transformasi sosial.

Dalam koleksi CFCL, motif tersebut muncul pada gaun

soft milan foil

dengan lingkar rok hingga enam meter atau pada gaun

soft portrait foil

yang dirajut tanpa jahitan sebelum diberi lapisan foil tipis.

Tekstur metalik yang berkilau itu juga memiliki dimensi keberlanjutan. Material itu juga berasal dari program daur ulang.

“Sekitar 70 hingga 80 persen berasal dari program daur ulang,” ujarnya.

Komitmen tersebut bukan sekadar klaim. CFCL baru saja memperbarui sertifikasi B Corp dengan skor tertinggi bagi perusahaan Jepang. Sertifikat ini jadi indikator bahwa praktik bisnis dan rantai pasok perusahaan memenuhi standar keberlanjutan global.

Koleksi VOL.12 ini menunjukkan bagaimana desain dapat berfungsi sebagai jawaban kreatif terhadap perubahan sistemik dalam industri mode.

Melalui rajutan yang diprogram secara digital, penggunaan material daur ulang, dan pendekatan estetika yang minimalis namun konseptual, CFCL memperlihatkan bahwa mode dapat bergerak menuju masa depan yang lebih bertanggung jawab, tanpa kehilangan kekuatan artistiknya.

(asr/asr)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Golden Samoyed]

Baca lagi: Luhut Sebut Iran Punya Drone yang Beroperasi di Bawah Laut

Baca lagi: PAN DPR RI Berangkatkan 3.000 Pemudik Lewat Program Mudik Ceria 2026

Baca lagi: Dembele Siap Ngamuk, Ogah Kasih Ampun Chelsea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: