
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Strategi
intermittent diet
ampuh menurunkan berat badan bagi sebagian orang. Namun dalam riset terbaru, rupanya strategi ini menawarkan lebih dari itu. Ternyata
diet
intermittent ubah kerja
otak
. Seperti apa?
Intermittent diet atau
intermittent energy restriction
(IER) ditemukan tidak hanya menurunkan berat badan tapi juga mengubah kinerja otak. Penelitian yang diterbitkan pada 2023 menemukan tipe diet ini dapat mengubah hubungan antara bakteri usus dan aktivitas otak berkaitan dengan nafsu makan dan perilaku makan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Di sini kami menunjukkan bahwa diet IER mengubah poros otak-usus-mikrobioma manusia,” kata salah satu penulis studi dan peneliti di Institut Manajemen Kesehatan Rumah Sakit Umum PLA di Beijing Qiang Zeng seperti dikutip dari
Science Daily
.
“Perubahan yang diamati pada mikrobioma usus dan aktivitas di wilayah otak yang terkait dengan kecanduan selama dan setelah penurunan berat badan sangat dinamis dan saling terkait dari waktu ke waktu.”
Diet intermittent ubah kerja otak
Peneliti mempelajari 25 orang dewasa dengan obesitas di China. Mereka berusia rata-rata 27 tahun dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) antara 28-45.
Tim mengecek dan menganalisis sampel tinja, darah, juga aktivitas otak. Menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI), peneliti melihat aktivitas wilayah otak yang terlibat dalam nafsu makan, emosi, perhatian, pembelajaran, inhibisi, dan penghargaan.
Studi pun dimulai dengan fase puasa terkontrol tinggi selama 32 hari. Selama periode ini, peserta mengonsumsi makanan yang sudah dirancang ahli gizi. Asupan kalori secara bertahap dikurangi hingga sekitar seperempat dari kebutuhan energi dasar.
Setelah itu, peserta menjalani puasa terkontrol rendah selama 30 hari. Peserta diberi daftar rekomendasi makanan dan mengikuti petunjuk makan hingga memenuhi 500 kalori per hari untuk wanita dan 600 kalori per hari untuk pria.
Di akhir intervensi, berat badan peserta turun rata-rata 7,6 kg atau sekitar 7,8 persen dari berat badan awal. Selain itu, terjadi perbaikan metabolisme mulai dari penurunan glukosa, kolesterol total, dan tekanan darah.
Kemudian yang cukup mengejutkan diet intermittent ubah kerja otak.
Program ini berkaitan dengan aktivitas lebih rendah di beberapa wilayah otak yang berkaitan dengan nafsu makan dan perilaku terkait kecanduan. Perubahan ini menjelaskan kenapa diet tidak hanya memengaruhi ukuran tubuh tapi juga keinginan makan, pengendalian diri, dan dorongan makan.
Di saat yang sama, mikrobioma usus bergeser. Ditemukan
Faecalibacterium prausnitzii, Parabacteroides distasonis,
dan
Bacterokles uniformis
meningkat tajam. Sementara
E.coli
menurun.
E.coli
kemudian
Coprococcus
, dan
Eubacterium hallii
dalam jumlah tinggi berasosiasi negatif girus frontal inferior orbital kiri otak. Wilayah otak ini berkaitan dengan fungsi eksekutif dan kemauan selama penurunan berat badan.
(els)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Golden Samoyed]
Baca lagi: Kenapa Opah dan Tok Dalang Tidak Menikah?
Baca lagi: Fenomena Bulan Purnama Berpotensi Picu Rob di Bali, Denpasar-Jembrana
Baca lagi: 7 Rekomendasi Tempat Makan Legendaris di Blok M, Sudah Pernah Coba?



