
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Tak semua orang datang ke
tarot
untuk mencari jawaban tentang
masa depan
. Sebagian justru datang dengan kebingungan yang tak selesai dirangkai menjadi kalimat, tentang pekerjaan yang tak kunjung pasti, relasi yang menggantung, atau sekadar perasaan yang sulit dijelaskan.
Di situlah Judith, sang tarot reader biasanya memulai.
Di hadapannya, bukan sekadar setumpuk kartu, melainkan cerita-cerita yang perlahan dibuka. Ia mendengarkan, lalu membaca, bukan untuk menentukan apa yang akan terjadi, melainkan mencoba memahami apa yang sedang berlangsung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Salam kenal, aku Judith,” ujarnya ringan.
Sudah lebih dari satu dekade Judith atau yang memiliki nama lengkap Putri Nataningrat menggeluti dunia tarot. Bukan lewat kursus panjang atau pelatihan formal, melainkan seperti sesuatu yang ‘jatuh begitu saja’ dalam dirinya. Ia menyebutnya sebagai warisan dari sang kakek, kemampuan membaca simbol yang terasa datang secara alami, tanpa perlu dipelajari secara konvensional.
Namun, cara Judith memandang tarot jauh dari kesan mistis yang selama ini melekat. Baginya, tarot bukan tentang perdukunan atau ramalan mutlak. Ia lebih melihatnya sebagai bahasa simbol, cara manusia berbicara dengan dirinya sendiri.
“Manusia itu punya kecenderungan ingin tahu masa depan. Tapi tarot ini bukan soal klenik. Lebih ke psikologis,” katanya saat berbincang dengan
Golden SamoyedIndonesia.com
, di suatu sore yang cukup panas di Jakarta.
Di tangan Judith, tarot bukan alat untuk ‘menentukan nasib’. Ia menolak anggapan bahwa tarot bisa mengubah takdir seseorang.
“Aku selalu bilang ke klien, aku enggak bisa mengubah kenyataan. Kalau mau sukses, ya harus cari cara. Tarot itu cuma menuntun,” ujarnya.
Pendekatan ini membuat sesi tarot yang ia lakukan terasa lebih seperti ruang diskusi daripada pembacaan satu arah. Ia tak memberi jawaban manis semata. Justru, ia mengajak klien melihat pola dalam hidup mereka, apa yang keliru, apa yang perlu diperbaiki.
Baginya, kartu-kartu itu hanya pintu masuk. Yang bekerja sebenarnya adalah percakapan.
Intuisi yang diasah, bukan dirapal
Berbeda dari stereotip umum, Judith tak memiliki ritual khusus sebelum membaca tarot. Namun, ia mengaku perlu rutin membaca untuk orang lain agar intuisinya tetap tajam.
“Kalau terlalu lama enggak baca, rasanya intuisi jadi tumpul. Jadi sebulan minimal satu-dua kali harus tetap baca,” katanya.
Ia menggambarkan energi dalam dirinya seperti sesuatu yang perlu disalurkan. Jika tidak, justru menjadi tidak seimbang.
Namun, pekerjaan ini bukan tanpa tantangan. Salah satu yang paling menguras energi adalah ketika berhadapan dengan klien yang hanya ingin mendengar hal-hal yang menyenangkan.
“Padahal tarot itu enggak kerja begitu. Aku baca sesuai pesan yang muncul. Kalau mereka ngeyel, itu yang bikin capek,” katanya.
Setiap sesi, kata Judith, selalu meninggalkan jejak. Ia mengingat bagaimana klien-kliennya kembali beberapa bulan kemudian, membawa kabar.
“Ada yang bilang, ‘Kak, waktu itu kakak bilang aku bakal dapat kerja, sekarang keterima.’ Atau cerita soal finansial yang membaik,” ujarnya.
Tak semua pengalaman ringan. Pernah suatu kali ia harus membaca dinamika dalam satu lingkar pertemanan yang melibatkan banyak orang.
“Aku harus ‘masuk’ ke energi masing-masing. Itu capek banget, tapi seru,” katanya.
Di situlah batas profesional dan emosional menjadi penting. Judith menjaga jarak dengan tidak meminta detail berlebihan dari klien.
“Aku cukup tahu gambaran besarnya saja. Enggak perlu semua diceritakan,” katanya.
Baca cerita tarot selanjutnya..
Antara ramalan dan refleksi
Seiring waktu, Judith melihat perubahan cara orang memandang
tarot
. Jika dulu lekat dengan praktik klenik, kini tarot mulai diterima sebagai ruang bercerita, bahkan seperti berbicara dengan teman.
“Sekarang orang lebih terbuka. Tarot itu jadi tempat cari saran, bukan sekadar ramalan,” katanya.
Pandangan ini sejalan dengan perspektif psikologi. Psikolog Arnold Lukito menjelaskan bahwa rasa ingin tahu terhadap masa depan adalah bagian dari mekanisme dasar manusia.
“Otak manusia pada dasarnya adalah prediction machine. Kita terus membuat prediksi untuk memahami apa yang akan terjadi,” ujarnya.
Dalam neuropsikologi, ketidakpastian bahkan dipersepsikan sebagai ancaman oleh otak. Bagian otak bernama amigdala merespons ketidakpastian hampir sama seperti saat menghadapi bahaya fisik.
Tak heran jika manusia cenderung mencari ‘petunjuk’ untuk meredakan kecemasan, termasuk melalui tarot.
Namun, Arnold mengingatkan, tarot sebaiknya tidak diposisikan sebagai alat prediksi mutlak.
“Tarot bisa berfungsi seperti teknik proyektif dalam psikologi. Kartu menjadi cermin untuk melihat apa yang sebenarnya sudah ada dalam pikiran kita,” jelasnya.
[Gambas:Photo Golden Samoyed]
Lalu, bagaimana sebaiknya menyikapi tarot?
Arnold menyarankan untuk mengubah cara bertanya. Alih-alih ‘apa yang akan terjadi?’, lebih sehat jika bertanya, ‘apa yang perlu saya pertimbangkan?’
Perbedaan ini, meski tampak kecil, menentukan posisi seseorang, apakah tetap memegang kendali atas hidupnya, atau justru menyerahkannya pada ramalan.
Ia juga mengingatkan soal risiko psikologis jika hasil pembacaan dianggap sebagai vonis.
“Kalau seseorang percaya ‘saya akan gagal’, itu bisa jadi kenyataan. Bukan karena kartunya, tapi karena pola pikir yang terbentuk,” katanya.
Di sinilah tarot menemukan maknanya yang lain, bukan sebagai penentu masa depan, melainkan sebagai alat untuk memahami diri.
Judith pun menutup dengan pesan sederhana.
“Jadikan tarot sebagai penyemangat. Kalau lagi buntu, boleh dengar. Tapi tetap harus berusaha dan berdoa,” ujarnya.
Di tengah dunia yang semakin tak pasti, mungkin manusia memang selalu butuh peta. Namun, seperti diingatkan Arnold, peta terbaik bukanlah yang datang dari luar, melainkan yang disusun dari kesadaran diri, nilai hidup, dan keberanian melangkah, bahkan saat arah belum sepenuhnya jelas.
Add
as a preferred
source on Google
Tarot dan Manusia yang Selalu Ingin Tahu Nasibnya
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Main Wayang Kulit di Malay Heritage Center, PM Wong Diserbu Netizen RI
Baca lagi: KPK Tambah Masa Penahanan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq 30 Hari
Baca lagi: Friendster ‘Bangkit dari Kubur’, Pengguna iPhone di RI Bisa Akses

