
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Perselingkuhan
kerap dipandang sebagai persoalan moral, komitmen, atau masalah dalam
hubungan
. Namun belakangan, muncul anggapan yang terdengar lebih ilmiah,
selingkuh
disebut-sebut sebagai bawaan genetik.
Gagasan ini memang terdengar meyakinkan, apalagi jika dikaitkan dengan istilah seperti hormon, dopamin, atau gen tertentu. Tapi, benarkah seseorang bisa berselingkuh karena faktor gen?
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jawabannya tidak sesederhana itu. Hingga kini, belum ada bukti kuat yang menyatakan bahwa perselingkuhan ditentukan langsung oleh gen. Yang lebih banyak ditemukan justru pengaruh biologis terhadap sifat atau kecenderungan tertentu dalam membangun dan menjaga hubungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berperan, tapi bukan penentu
Salah satu studi yang dipublikasikan dalam
Frontiers in Psychology
membahas variasi gen AVPR1A RS3, bagian dari sistem biologis yang berkaitan dengan hormon vasopresin. Hormon ini diketahui berperan dalam ikatan sosial, kedekatan emosional, serta proses membangun relasi.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa faktor genetik dapat memengaruhi relationship maintenance processes, seperti komitmen, kedekatan, dan stabilitas hubungan. Namun, hal ini tidak berarti gen tertentu membuat seseorang pasti berselingkuh.
Penjelasan lain datang dari kajian
The Molecular Basis of Love
, yang menguraikan cara kerja otak dan hormon dalam proses jatuh cinta hingga membangun hubungan jangka panjang.
Dalam kajian ini disebutkan bahwa zat kimia seperti dopamin, oksitosin, vasopresin, dan serotonin berperan dalam ketertarikan, keterikatan emosional, hingga relasi jangka panjang.
Sistem ini memengaruhi bagaimana seseorang merasa dekat, terhubung, atau justru menjaga jarak dalam hubungan.
Melansir jurnal
Love and Infidelity: Causes and Consequences
, perselingkuhan merupakan fenomena multifaktor. Keputusan untuk berselingkuh dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain kepuasan dalam hubungan, komunikasi dengan pasangan, nilai dan prinsip pribadi, kesempatan, hingga faktor sosial dan lingkungan.
Meski tidak ada ‘gen selingkuh’, beberapa aspek biologis memang bisa memengaruhi kecenderungan tertentu, seperti dorongan mencari sensasi (sensation-seeking), keterbukaan terhadap hubungan tanpa komitmen kuat (sociosexuality), serta kemampuan membangun dan mempertahankan ikatan emosional.
Faktor-faktor tersebut dapat membuat seseorang lebih rentan atau justru lebih kuat dalam menjaga hubungan. Namun, semuanya bukan penentu akhir.
Perselingkuhan merupakan hasil dari kombinasi banyak faktor, mulai dari kondisi psikologis, kualitas relasi, hingga lingkungan sosial. Meski ada pengaruh biologis, keputusan untuk setia atau tidak tetap berada pada individu.
(anm/tis)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Golden Samoyed]
Baca lagi: no na Ingin Konser di Indonesia: Kembali ke Rumah
Baca lagi: Cerita Jemaah Haji Termuda Asal Kalsel 13 Tahun
Baca lagi: Langkah Pertamina Perluas Akses Deteksi Dini Kanker Payudara



