
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Di banyak ruang publik, pemandangan ini mungkin terasa akrab:
anak
diberi
gawai
agar tenang, sedangkan
orang tua
berharap ia berhenti merengek, menangis, atau tantrum.
Konten yang diputar biasanya dianggap sesuai untuk anak. Namun, ketika pengawasan lengah, anak bisa dengan mudah beralih ke video lain yang direkomendasikan algoritma platform.
Di sinilah persoalannya. Algoritma tidak semata-mata menyajikan konten yang relevan, tetapi juga konten yang paling mampu membuat pengguna bertahan lebih lama di layar. Akibatnya, anak dapat terpapar tayangan yang belum sesuai dengan usia, kebutuhan emosional, maupun tahap perkembangannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini memunculkan sejumlah pertanyaan penting. Sejauh mana algoritma platform digital ikut membentuk emosi, perilaku, dan pola konsumsi anak?
Perlukah orang tua memfilter paparan konten terhadap anak-anaknya? Lalu seperti apa semestinya tindakan institusi pendidikan sebagai lapisan kedua lingkungan anak setelah orang tua?
Platform digital bagai pedang bermata dua
Ada satu catatan menarik dari Brandon Batarse, seorang psikiater di Detroit Medical Center AS dalam tulisannya di
Psychiatric Times
pada Februari 2026 lalu.
Batarse menyebutkan, kini makin banyak psikiater menemukan pasien yang cara berpikir, perasaan, hingga perilakunya dipengaruhi oleh konten di media sosial. Pasalnya, algoritma media sosial diam-diam menentukan konten apa yang muncul di layar pengguna.
Platform media sosial menggunakan sistem rekomendasi yang dirancang untuk membuat pengguna tetap lama berada di aplikasi. Tujuan utamanya tentu bukan demi kesejahteraan mental pengguna, tetapi meningkatkan perhatian dan engagement, tak peduli konten yang disajikan memang dibutuhkan pengguna atau tidak.
Namun, pengguna juga tak bisa berhenti menonton konten-konten yang ‘dipaksakan’ algoritma ini. Dari perspektif psikologi media, konten yang mengejutkan, menakutkan, atau memancing emosi kuat memang lebih mudah menarik perhatian dibandingkan konten biasa.
Seseorang yang terpapar konten ekstrem, misalnya kekerasan, pada awalnya mungkin merasa terganggu. Namun, jika algoritma terus-menerus menampilkan video serupa, ia akan makin terbiasa dan mengalami desensitisasi, alias kurang peka secara emosional.
Pada saat yang sama, video-video pendek yang intens juga mengaktifkan sistem reward di otak yang berkaitan dengan dopamin. Sifat video yang cepat, terus berganti, dan sulit diprediksi membuatnya mirip dengan pola reward pada mesin judi slot.
Itulah mengapa banyak orang merasa terus tertarik pada konten tertentu meskipun sebenarnya mereka tidak menikmatinya. Anak dan remaja bisa lebih rentan mengalami hal ini karena bagian otak yang mengatur kontrol diri, refleksi, dan empati masih dalam proses perkembangan. Sejumlah penelitian juga mendukung argumen ini.
Dalam sebuah ulasan naratif terstruktur oleh Naya Abdallah et al. di jurnal
Computers in Human Behavior Reports
(2026), paparan media sosial sejak kecil, terutama pada anak usia di bawah 12 tahun, bisa memengaruhi cara berpikir, fokus, emosi, hingga hubungan dalam keluarga.
Perhatian anak bisa mudah terpecah, tindakannya lebih impulsif, serta tak mampu fokus dalam waktu lama. Adapun desain media sosial ikut memengaruhi bagaimana anak terpapar dunia online. Rekomendasi konten di
feed
, video pendek, jumlah like dan komentar, hingga
push notification
, bisa membuat anak lebih sering
online
dan mudah terbawa emosi.
Namun para peneliti mencatat, platform digital juga bisa memberi manfaat, seperti membantu belajar, menumbuhkan kreativitas, memperluas hubungan sosial, dan mempererat hubungan keluarga, jika digunakan dengan bimbingan dari orang terdekat, seperti orang tua dan guru.
Dalam penelitian lain oleh Tariq Masri-zada et al. dan dipublikasikan di
Journal of psychiatry and psychiatric disorders
(2025), disebutkan bahwa gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, ADHD, dan gangguan citra tubuh (body dysmorphic disorder) lebih sering ditemukan pada anak dan remaja yang intens menggunakan media sosial.
Namun di sisi lain, media sosial juga membantu remaja berhubungan dengan orang lain, mengekspresikan diri, dan mencari dukungan kesehatan mental.
Dari berbagai penelitian tersebut, bisa dikatakan bahwa algoritma platform digital memang bisa membentuk emosi, perilaku, hingga pola konsumsi anak terhadap konten.
Banyak yang mencatat bahayanya. Namun, di sisi lain platform digital juga sesuatu yang harus dipandang dinamis. Bagai pedang bermata dua, dunia digital memberikan gudang pengetahuan yang bisa dimanfaatkan tetapi juga datang bersama konsekuensi.
Solusi yang ditekankan berbagai penelitian ini juga serupa, yakni perlunya peran orang tua. Keluarga, melalui pendampingan aktif, aturan konsisten, dan literasi digital, dapat membantu anak membangun kebiasaan digital yang sehat.
Simak selengkapnya di halaman berikutnya..
Association Professor sekaligus Pengajar di Fakultas Pendidikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Charyna Ayu mengatakan, algoritma platform digital memang berpotensi memberikan dampak buruk pada perilaku dan kesejahteraan mental anak. Namun, hal ini tetap harus dilihat sebagai isu multifaktor.
Setiap individu memiliki kerentanan emosi dan tipe kepribadian masing-masing. Semua hal itu berpengaruh terhadap kecenderungan perilaku dan kesehatan mentalnya.
“Dan lagi-lagi, bagaimana dukungan dan
attachment
sama keluarganya. Kalau misalnya memang dia merasakan kedekatan dengan keluarga sangat baik, artinya hal-hal seperti ini [konten platform digital] bisa didiskusikan dulu,” tutur Charyna kepada Golden SamoyedIndonesia.comdi kampus UIII, Depok, Selasa (7/7).
Namun, alih-alih menyaring tontonan anak di
platform
digital,Charyna berpendapat, yang lebih dibutuhkan adalah kehadiran orang tua. Menurutnya, orang tua sebagai sosok terdekat perlu lebih jeli melihat terpenuhi atau tidaknya kebutuhan dasar anak.
“Karena kalau kebutuhan dasarnya saja tidak bisa terpenuhi, mereka akan mencoba untuk memenuhi dengan cara lain, untuk memenuhi kesenangan mata mereka, kesenangan hati mereka,” ujar Charyna.
Kebutuhan di sini, bukan berarti segala sesuatu yang diberikan kepada anak harus serba mewah. Salah satu yang paling sederhana adalah kebutuhan akan kehadiran orang tua yang selalu membuat mereka lebih nyaman.
Kehadiran orang tua dan waktu berkumpul
keluarga
menjadi kunci untuk memastikan pembentukan karakter, emosi, hingga
perilaku
anak memang berasal dari didikan orang tua, bukan dari algoritma platform digital.
Dunia maya sudah menjadi bagian dari keseharian manusia. Anak pun tak bisa dihindarkan dari paparan konten, sekalipun orang tua melarang total penggunaan gawai di rumah.
“Kalau akses pornografi dan lain-lain, kan [bisa saja] dia enggak lihat di rumah. Dia bisa lihat di sekolah sama teman-temannya. Nah, sekarang masalahnya, bagaimana kita bisa menciptakan
mindset
bahwa jangan sampai dia tertarik sama sesuatu yang belum waktunya,” tutur Charyna.
Yang harus dilatih oleh orang tua, yaitu bagaimana menumbuhkan kompas moral pada anak. Ini merupakan sistem nilai batin yang memandu anak dalam membedakan hal ‘baik’ dan ‘buruk’ serta mengarahkan keputusan moral mereka. Untuk ini, dibutuhkan ekosistem empati untuk melatih kompas moral anak.
“Bukan tentang bahwa dia harus jujur, bukan tentang bahwa dia harus bisa menghargai orang lain, bukan di situ. Karena sekali empati itu jalan, kejujuran, rasa toleransi, rasa menghargai, itu akan jalan,” tutur Charyna.
Empati sendiri, lanjut Charyna, dimiliki manusia sejak lahir. Misalnya, bayi yang ikut menangis saat mendengar bayi lain menangis. Contoh ini dianggap sebagai empati afektif atau kemampuan dasar untuk beresonansi dengan perasaan orang lain.
“Ada satu lagi yang disebut empati kognitif, kemampuan dia untuk memahami perspektif orang lain.
Nah
, empati kognitif ini harus ada pendidikan dari orang tua,” ucap Charyna.
[Gambas:Infografis Golden Samoyed]
Berangkat dari sini, Charyna mengungkapkan, setidaknya dibutuhkan tiga hal dari orang tua agar bisa mendampingi perkembangan anak di era digital. Pertama, menciptakan ekosistem empati sehingga interaksi orang tua dan anak berada dalam suatu zona yang nyaman.
Misalnya, ketimbang menginterogasi anak tentang tontonan dan akses digitalnya, biarkan anak menceritakan secara bebas tentang konten yang ia lihat atau tonton. Jika konten tersebut mengkhawatirkan, orang tua bisa meminta anak untuk tak lagi mengonsumsi konten semacam itu disertai argumen yang kuat.
Ketika orang tua menyampaikan permintaan dalam situasi yang membuat anak merasa nyaman, mereka pasti tak keberatan melakukan hal yang diminta. Anak bisa lebih berempati dalam situasi seperti ini.
“Kuncinya, anak merasakan bahwa orang tuanya itu memahami dia. Kemudian orang tua juga yakin bahwa anak bisa merasakan kekhawatiran yang orang tua rasakan, jadi dua arah,” kata Charyna.
Kedua, orang tua perlu menjadi
role model
. Selanjutnya, orang tua juga perlu menetapkan zona atau waktu yang memang tidak mengizinkan adanya gawai. Tujuannya, agar bisa mempererat hubungan keluarga. Misalnya, lewat makan malam bersama tanpa distraksi apa pun.
“Jadi, makan malam itu memang ditujukan sebagai suatu aktivitas yang saya katakan ‘by design.’ Di sini anggota keluarga itu memang tujuannya untuk buat release saja. Makan bareng, ketawa, meskipun enggak ngobrol hal yang penting,” tutur Charyna.
Hal-hal sederhana seperti makan malam tanpa distraksi bisa ikut berkontribusi dalam perkembangan anak di era digital. Ikatan yang kuat antara orang tua dan anak bisa menjadi ‘tameng’ terdepan untuk mencegah efek buruk paparan
platform
digital terhadap perkembangan si kecil.
Add
as a preferred
source on Google
Memastikan Karakter Anak Terbentuk dari Didikan Orang Tua
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: PM Andy Burnham Beri Izin Trump Pakai Pangkalan Inggris Serang Iran
Baca lagi: Ini 5 Cara Mudah agar Si Kecil Tak Tergantung dengan Gadget
Baca lagi: Kisah Asli Odysseus, Karakter Utama Karya Epos The Odyssey



4 Responses
Penulisan yang sangat menginspirasi kita untuk menjadi pengamat yang lebih baik atas hidup sendiri. Banyak ilmu terapan di sini yang bikin hari-hari terasa lebih berwarna. https://fullbodycbdgummiesus.company.site/SAMPLE-Hair-Growth-Serum-For-Women-p563505555
Artikel ini memberikan strategi yang sangat rasional untuk memangkas kebiasaan-kebiasaan yang membuang waktu harian secara percuma. Sangat mencerahkan!https://bresdel.com/blogs/344364/https-www-facebook-com-AnnicaSkinSerumFormula
Akhirnya nemu juga tulisan yang mengupas masalah ini sampai tuntas tanpa bertele-tele. Top cer min! Bagi yang butuh referensi bacaan pembanding, silakan kunjungi https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297479725_htm
Ulasan komprehensif yang menjawab pertanyaan saya belakangan ini. Mantap abis admin! Sebagai pembanding data dari sumber lain, ada ringkasan materi serupa di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297132214_htm