Pembatasan Wisatawan Jadi Cara Jaga Habitat Badak Jawa di Ujung Kulon

Daftar Isi

Jakarta, Golden Samoyed Indonesia

—

Taman Nasional Ujung Kulon merupakan habitat terakhir

Badak Jawa

sekaligus salah satu destinasi wisata alam yang menarik perhatian wisatawan.

Berada di ujung barat Pulau Jawa, kawasan ini menawarkan hutan hujan tropis, pantai, serta keanekaragaman hayati yang menjadi daya tarik bagi pencinta alam.

Namun, meningkatnya minat wisatawan juga memunculkan pertanyaan mengenai dampak pariwisata terhadap kelestarian satwa dan habitatnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terutama, karena Ujung Kulon merupakan satu-satunya habitat Badak Jawa (

Rhinoceros sondaicus

) yang tersisa di dunia.

Dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University, Dr drh Muhammad Agil, MSc.Agr, mengatakan kegiatan wisata dan konservasi sebenarnya dapat berjalan beriringan.

Menurutnya, yang perlu dihindari adalah pariwisata massal yang mendatangkan wisatawan dalam jumlah berlebihan hingga berpotensi mengganggu kawasan dan satwa liar.

“Yang perlu dihindari adalah mass tourism. Selama pengelolaannya tepat, wisata justru bisa menjadi sarana edukasi dan meningkatkan kepedulian terhadap konservasi,” kata Agil, seperti dilansir

Detik

.

Ujung Kulon sendiri baru-baru ini masuk dalam daftar

Wildlife Experience Index

yang disusun perusahaan perjalanan Bailey Robinson.

Daftar tersebut merangkum 30 pengalaman wisata satwa liar yang dinilai berdasarkan enam aspek, yakni kelangkaan satwa, keterpencilan lokasi, nilai konservasi, eksklusivitas, aksesibilitas, serta peluang wisatawan bertemu satwa.

Indonesia memiliki dua perwakilan dalam daftar tersebut, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon dan kawasan hutan di Kalimantan untuk pengalaman bertemu orang utan.

Popularitas destinasi wisata berbasis satwa ini tentunya membuat pengelolaan kunjungan menjadi hal yang perlu diperhatikan agar tidak mengganggu upaya konservasi.

Agil menilai keberadaan wisatawan tidak selalu menjadi ancaman bagi kawasan konservasi. Jika dikelola dengan tepat, aktivitas wisata justru dapat menjadi sarana untuk mengenalkan pentingnya menjaga alam.

Karena itu, kunjungan ke taman nasional seharusnya tidak hanya ditujukan untuk rekreasi. Wisatawan juga perlu mendapatkan pemahaman mengenai ekosistem dan alasan setiap unsur di dalamnya harus tetap terjaga.

“Ke taman nasional bukan untuk main dan hura-hura, tapi adalah untuk memahami alam bahwa ekosistem di sana itu harus terjaga. Dan artinya ekosistem yang terjaga itu semua elemen di sana itu harusnya tetap ada,” ujar Agil.

Berbeda dengan konsep wisata massal yang mengejar jumlah kunjungan sebanyak-banyaknya, wisata di kawasan konservasi membutuhkan pengelolaan yang lebih terbatas.

Akses dapat dibatasi, jalur kunjungan diatur, dan aturan tertentu juga diterapkan untuk mengurangi gangguan terhadap satwa maupun habitatnya.

Menurut Agil, pendekatan tersebut memungkinkan wisatawan tetap mendapatkan pengalaman menikmati alam tanpa mengorbankan fungsi utama kawasan sebagai tempat perlindungan satwa.

Dukungan dan kesadaran publik terhadap konservasi juga dapat tumbuh melalui pengalaman wisata yang dikelola secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, keberhasilan wisata di kawasan konservasi tidak semata-mata diukur dari banyaknya wisatawan yang datang.

Hal yang lebih penting adalah bagaimana kegiatan wisata tetap memberikan pengalaman bagi pengunjung sekaligus menjaga kelestarian alam. “Orang datang bukan hanya untuk berwisata, tetapi juga belajar memahami alam dan pentingnya konservasi,” ujar Agil.

(dsd/wiw)

Baca lagi: Katy Perry Sebut Justin Trudeau Hadiah Terindah Saat Hidupnya Berat

Baca lagi: FOTO: Warga Kenya Kini Demam Cosplay ala Jepang

Baca lagi: 5 Gang Kecil Ini Menyimpan Cerita Sejarah Perkembangan Kota Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: