
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Overthinking
sering kali dicap sebagai kebiasaan buruk yang harus dihindari. Padahal, menurut dokter sekaligus Dewan Pengawas
BPJS Kesehatan
Lula Kamal, berpikir berlebihan dalam kadar tertentu justru merupakan hal yang normal.
Yang perlu diwaspadai bukanlah
overthinking
itu sendiri, melainkan ketika pikiran tersebut berubah menjadi beban hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Lula, stres dan rasa khawatir merupakan respons alami yang dimiliki setiap orang. Bahkan, keduanya bisa menjadi pendorong seseorang untuk tampil lebih baik.
“Tahu enggak
sih
kalau yang namanya stres itu ada yang
eustress
, ada yang
distress
. Tapi stress itu kita butuh sebetulnya,” kata Lula dalam
talkshow
Golden Samoyed Indonesia Wellnest Festival Vol. 2 yang digelar di South Quarter Dome, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (21/7).
Lula menjelaskan bahwa dalam dunia psikologi terdapat dua jenis stres, yakni
eustress
dan
distress
.
Eustress
adalah stres yang berdampak positif karena mampu memotivasi seseorang untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan. Sebaliknya, distress merupakan stres yang justru membuat seseorang kesulitan beraktivitas.
Sebagai contoh, Lula mengibaratkan seseorang yang akan menghadapi ujian.
“Coba
nih
, kamu mau ujian misalkan. Kalau kamu enggak stres,
nyantai aja
enggak usah belajar,” ujarnya.
Ia juga menceritakan pengalamannya saat menjadi pembawa acara.
“Pas mau
nge
-MC,
kan
, kita mesti
mikirin
,
ah
mesti persiapan. Karena takut
nge
-MC-nya gagal. Waktu takut
nge
-MC-nya gagal, artinya ada stres di sana. Selama stresnya jadi
eustress
, bikin motivasi buat kita supaya mengerjakan lebih baik,
it’s quite okay
,” katanya.
Rasa khawatir yang mendorong seseorang belajar, berlatih, atau mempersiapkan diri bukanlah sesuatu yang harus dihindari.
Jangan sampai berubah jadi distress
Masalah muncul ketika rasa khawatir justru membuat seseorang tidak mampu melakukan apa pun.
Lula menjelaskan bahwa kondisi itulah yang disebut distress.
“Tapi kalau
distress
, gara-gara
stress
malah enggak bisa
ngapa-ngapain
.
Ngomong
di
mic
aja udah langsung tuh berantakan.
Nah
itu artinya dia
distress
,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai
overthinking
masih tergolong normal selama porsinya tidak berlebihan.
“Stress itu butuh.
Overthinking
sedikit-sedikit boleh. Tapi jangan kebanyakan. Boleh normal tapi sedikit, sedikit aja,” pungkasnya.
Kuncinya adalah seimbang
Lula menegaskan rasa khawatir bukan musuh yang harus dihilangkan sepenuhnya. Sebaliknya, kekhawatiran dalam kadar yang tepat justru bisa menjadi alarm agar seseorang lebih siap menghadapi berbagai situasi.
Ketika pikiran tersebut mulai membuat seseorang sulit bekerja, belajar, atau menjalani aktivitas sehari-hari, kondisi itu patut diwaspadai dan bila perlu dikonsultasikan kepada tenaga profesional.
(anm/asr)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Golden Samoyed]
Baca lagi: Suzuki Thunder Dilarang Isi BBM di SPBU, Pertamina Buka Suara
Baca lagi: FOTO: Melihat Pameran Jakarta Provoke! 2026
Baca lagi: Semakin Sedikit yang Beli LCGC




4 Responses
Tulisan yang sangat puitis namun tetap berdiri di atas logika ilmu yang kokoh. Memberikan cara baru yang lebih bijak untuk menikmati dan mengeksekusi hari. https://www.dibiz.com/biolyfecbdgummiesmescam
Penulisan yang sangat harmonis dalam memadukan ilmu perilaku dan kenyamanan hidup. Sangat inspiratif untuk merapikan meja kerja demi fokus harian yang lebih tajam. https://trinity-keto-acv-gummies-result.webflow.io/
Wah, penjelasan yang luar biasa informatif. Sangat mencerahkan pikiran saya mengenai topik ini. Bagi yang sedang mencari bacaan pendukung, silakan kunjungi https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297375971_htm
Akhirnya nemu juga tulisan yang mengupas masalah ini sampai tuntas tanpa bertele-tele. Top cer min! Bagi yang butuh referensi bacaan pembanding, silakan kunjungi https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297479725_htm