
Daftar Isi
Asal-usul bulan Safar
Mitos di bulan Safar yang beredar
1. Safar sebagai bulan pembawa sial
2. Jangan bepergian di bulan Safar
3. Mendatangkan banyak penyakit
Tak Ada Dasarnya dalam Ajaran Islam
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Dalam kehidupan sehari-hari, masih ada sebagian
umat Muslim
yang memercayai tradisi tanpa menelusuri dasarnya dalam ajaran Islam. Salah satunya, yakni sejumlah mitos di
bulan Safar
.
Bulan ini kerap dianggap membawa sial, penuh musibah, dan tidak tepat untuk melakukan hal-hal penting. Akibatnya, ada orang yang menghindari pernikahan, perjalanan jauh, hingga memulai usaha pada bulan Safar. Namun benarkah mitos di bulan Safar memiliki dasar yang kuat dalam Islam?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal-usul bulan Safar
Mengutip laman MUI, Safar itu sendiri merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriyah. Dalam penjelasan Ibnu Mandzur di Lisanul ‘Arab, kata Safar memiliki dua makna, yaitu kosong (shafar) dan kuning (shufrah).
Penamaan tersebut dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat Arab pada zaman dahulu yang meninggalkan rumah mereka untuk bepergian atau berperang, sehingga tempat tinggal menjadi kosong.
Dalam kitab al-Mufasshal fi Tarikhil ‘Arab Qablal Islam, disebutkan bahwa kondisi kosong itu membuat orang-orang yang ditinggal berkata, “Orang-orang mengosongkan kota (meninggalkan) kita, sebab kita miskin (kosong/tidak memiliki harta).” (Juz 6, h. 120)
Dari sinilah nama Safar dikenal luas. Sejarah ini penting dipahami agar mitos di bulan Safar tidak terus dipelihara tanpa ilmu.
Mitos di bulan Safar yang beredar
Ada banyak mitos di bulan Safar yang beredar di kalangan masyarakat sejak dahulu kala. Berikut ini beberapa di antaranya:
1. Safar sebagai bulan pembawa sial
Ada anggapan Safar adalah bulan pembawa kesialan. Itulah yang menyebabkan banyak orang menunda acara penting seperti menikah, pindah rumah, atau memulai pekerjaan baru.
2. Jangan bepergian di bulan Safar
Ada pula keyakinan bahwa perjalanan di bulan Safar rawan membawa musibah. Sebagian orang percaya risiko kecelakaan atau kejadian buruk lebih besar jika bepergian saat itu.
Padahal, keselamatan dalam perjalanan bukan ditentukan oleh bulan, melainkan oleh kehendak Allah dan ikhtiar manusia.
3. Mendatangkan banyak penyakit
Safar juga sering dianggap sebagai bulan penyakit. Muncul anggapan wabah atau gangguan kesehatan lebih mudah terjadi pada bulan ini. Padahal, sakit dan sehat adalah bagian dari takdir Allah, bukan karena bulan tertentu memiliki energi negatif.
Tak Ada Dasarnya dalam Ajaran Islam
Dari berbagai mitos di bulan Safar tersebut, adakah kebenarannya? Mengutip laman Universitas Islam Indonesia, dahulu kala ketika masyarakat Arab jahiliah meyakini bulan ini membawa nasib buruk, Rasulullah datang dan bersabda:
لا عَدْوَى ولا طِيَرَةَ، ولا هامَةَ ولا صَفَرَ
“Tidak ada penularan (penyakit) tanpa izin Allah, tidak ada kepercayaan terhadap burung sebagai penentu nasib, tidak ada kesialan pada burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhari, no. 5707; Muslim, no. 2220)
Hadis ini menegaskan, mitos di bulan Safar tidak memiliki landasan syariat. Semua bulan pada dasarnya sama di sisi Allah. Tidak ada bulan yang secara mandiri membawa keberuntungan atau kesialan. Yang menentukan baik buruknya keadaan seseorang adalah amal, doa, dan izin Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Ayat tersebut menegaskan, semua bulan merupakan ciptaan Allah dan hanya empat bulan yang diberi kekhususan, yakni Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab. Safar tidak termasuk di dalamnya, artinya bulan ini sama mulianya dengan bulan lain.
Meluruskan mitos di bulan Safar bukan sekadar membantah tradisi lama. Ini juga bagian dari menjaga kemurnian akidah umat Islam agar lebih bertawakal kepada Allah.
Jadi, daripada takut pada mitos di bulan Safar, lebih baik menjadikannya sebagai momen untuk memperbanyak ibadah. Perbanyak zikir, salat, sedekah, menuntut ilmu, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Semua bulan adalah kesempatan untuk berbuat baik.
(rti)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Golden Samoyed]
Baca lagi: Komdigi Targetkan RI Punya Kecepatan Internet 100 Mbps 2 Tahun Lagi
Baca lagi: Jadwal Tayang The Batman Part II Ditunda Lagi ke Februari 2028
Baca lagi: Banyak Aktivitas Seru di Wellnest Festival 2026, Buruan Daftar!



4 Responses
Penjelasan di sini gampang banget dicerna dan to the point. Kalau ada yang mau cari sudut pandang tambahan seputar tema ini, coba deh mampir ke https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=291098 juga.
Artikel ini ditulis dengan keluwesan yang luar biasa, membuat topik yang biasanya memicu ketegangan saraf berubah menjadi bahan kontemplasi yang damai https://moral.senate.go.th/blog/index.php?entryid=36024
Setuju 100%! Memang bener banget poin-poin yang disampein. Buat nambah literasi, mampir juga ke https://kldp.org/comment/254358 ya, bahasan mereka juga oke punya.
Saya jadi lebih paham setelah membaca artikel ini. Kebetulan saya juga menemukan https://kldp.org/comment/352279 yang membahas topik serupa dengan cukup lengkap.