
Daftar Isi
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Di zaman kiwari, tak sedikit
pasangan
yang ‘terpaksa’ harus menjalani
long distance marriage
(LDM) atau
pernikahan
jarak jauh lantaran berbagai sebab. Dalam konteks ini, jarak membuat suami dan istri tidak lagi bisa berbagi rutinitas yang sama setiap hari.
Banyak orang beranggapan bahwa LDM membuat pasangan memiliki
personal space
-nya masing-masing. Benarkah demikian?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Psikolog Veronica Adesla menegaskan, pernikahan jarak jauh tak otomatis memberikan personal space. Lagi pula personal space sebenarnya tak hanya muncul saat pasangan menjalani LDM.
Setiap orang yang sudah menikah tetap membutuhkan ruang pribadi untuk beristirahat, menjalankan hobi, belajar, atau menghabiskan waktu bersama teman.
“Personal space itu, terlepas dari
long distance marriage
ataupun bukan
long distance marriage
, tetap harus ada dalam sebuah pernikahan,” ujarnya saat dihubungi
Golden SamoyedIndonesia.com
, Jumat (25/9).
Kehidupan pasangan memang akan saling beririsan. Ada teman yang sama, aktivitas yang dilakukan bersama, hingga kehidupan rumah tangga yang dijalani berdua. Meski begitu, bukan berarti seluruh kehidupan masing-masing harus menjadi kehidupan bersama.
Menurut Veronica, ruang pribadi membantu seseorang tetap memiliki individualitas dalam hubungan. Ketika hampir seluruh aktivitas selalu dilakukan bersama, pasangan bisa memiliki lebih sedikit pengalaman baru yang dapat dibawa ke dalam percakapan.
Sebaliknya, ketika masing-masing memiliki aktivitas atau hobi sendiri, ada pengalaman dan cerita baru yang bisa dibagikan kepada pasangan.
“Ketika kita bisa menjalankan hobi kita, kita juga sesungguhnya lagi menabur
happiness
di dalam diri kita. Dan ketika kita
happy
, pasangan kita ikut mendapat
happiness
-nya,” ujar Veronica.
Artinya, memiliki ruang pribadi bukan berarti menjauh dari pasangan. Justru, kehidupan masing-masing di luar hubungan dapat menjadi bagian yang membuat relasi tetap memiliki cerita dan pengalaman baru.
Jarak tidak otomatis menciptakan personal space
Hal tersebut juga berlaku dalam LDM. Meski secara fisik berjauhan, bukan berarti pasangan otomatis memiliki ruang pribadi. Pasangan tetap bisa merasa tidak memiliki
personal space
ketika komunikasi berubah menjadi kewajiban untuk terus-menerus memberikan laporan. Misalnya, harus selalu memberi tahu sedang berada di mana, dengan siapa, melakukan apa, atau harus segera membalas pesan.
“Jangan berpikir bahwa
long distance marriage
berarti sudah pasti ada
personal space
.
No
. Ada orang yang
long distance marriage
ini dia enggak ada dekat kita, tapi rasanya pun kayak enggak punya
personal space
,” jelas Veronica.
Karena itu, ruang pribadi tetap perlu dibicarakan dan disepakati. Jarak fisik dapat memberi kesempatan untuk menjalani kehidupan masing-masing, tetapi batas dalam hubungan tetap perlu dihormati oleh kedua pasangan.
Di saat yang sama, jarak juga membuat pasangan perlu menemukan cara lain untuk tetap merasa terhubung. Salah satunya dengan memahami bahwa rasa rindu dan kebutuhan untuk selalu mendapatkan respons dari pasangan adalah dua hal yang berbeda.
Karena itu perlu membuat agenda khusus untuk membicarakan hubungan. Bukan sekadar
family time
, tetapi waktu khusus berdua atau
couples time
. Waktunya bisa disepakati sesuai kebutuhan, misalnya setiap dua minggu atau sebulan sekali.
Dalam waktu tersebut, pasangan dapat membicarakan apa yang berjalan baik, apa yang dirasakan kurang nyaman, sekaligus kebutuhan masing-masing yang mungkin berubah selama menjalani LDM.
“Kuncinya cuma satu sih, mengkomunikasikan. Karena kalau tidak dikomunikasikan, itu tidak akan diketahui sebenarnya oleh pasangan kita,” kata Veronica.
Evaluasi hubungan juga bukan ajang untuk menentukan siapa yang salah. Menurut Veronica, pasangan sering terjebak pada keinginan membuktikan dirinya benar sehingga percakapan berubah menjadi perdebatan.
“Fokusnya adalah pada mencari solusi, bukan untuk menyalahkan,” imbuhnya.
Rindu tidak selalu berarti ketergantungan emosional
Saat menjalani LDM, rasa rindu tentu hadir dan merupakan bagian yang wajar. Persoalan muncul ketika kebahagiaan seseorang mulai sepenuhnya bergantung pada pasangan.
“Kalau kita ngomongin
emotional dependence
, itu kuncinya jelas. Kebahagiaan aku tergantung sama pasangan aku,” kata Veronica.
Seseorang dengan ketergantungan emosional dapat merasa tidak mampu bahagia ketika pasangan sedang tidak memberikan respons sesuai harapan. Sementara itu, rasa rindu tidak otomatis berarti seseorang menjadi bergantung secara emosional.
“Rindu itu sesuatu yang kita rasakan. Rindu itu kan bukan berarti apa yang kita rasakan belum tentu menjadi tindakan yang obsesif,” ujarnya.
Seseorang tetap dapat merindukan pasangan sembari menjalani aktivitas, merasa bahagia, dan memiliki kehidupan pribadi ketika pasangan sedang bekerja atau belum dapat memberikan respons.
Dengan begitu, menjaga kedekatan dalam LDM bukan berarti pasangan harus selalu tersedia satu sama lain. Yang penting adalah menemukan pola komunikasi yang membuat keduanya tetap merasa terhubung tanpa menghilangkan ruang pribadi.
(anm/asr)
Baca lagi: Hari Bhakti Postel 2026: DTI-CX, Aksi Donor Darah, hingga E-Sport
Baca lagi: Menteri Agus Target Investigasi Hunian Mewah di Lapas Cibinong Sepekan
Baca lagi: Sandiaga Uno Melayat ke Rumah Duka Guruh Soekarnoputra




One Response
Suka sekali dengan sudut pandang yang diangkat di artikel ini. Penjelasannya runtut dan bikin makin paham topik ini.untung88 slot