
Daftar Isi
1. Dikritik karena dianggap ‘terlalu ambisius’
2. Menghadapi sikap tidak bersahabat di tempat kerja
3. Enggan berkarya karena takut dicemooh
Cara menghadapi tall poppy syndrome
• Sadari ini bukan kesalahan Anda
• Cari lingkungan yang suportif
• Bangun ketahanan diri
• Kembangkan pola pikir bertumbuh
• Pertimbangkan untuk berpindah lingkungan
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Di tengah
budaya
yang kerap menjunjung
kerendahan hati
, menjadi menonjol ternyata tidak selalu membawa pujian. Bagi sebagian orang, kesuksesan justru bisa memicu penilaian negatif, kritik, hingga perlakuan tidak menyenangkan dari lingkungan sekitar.
Fenomena ini dikenal sebagai
tall poppy syndrome
.
Melansir
Medical News Today
, istilah ini merujuk pada kecenderungan orang untuk ‘memotong’ individu yang dianggap terlalu sukses atau menonjol. Kondisi ini kerap muncul di tempat kerja, tetapi juga bisa terjadi dalam lingkup pertemanan, keluarga, hingga media sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari rasa iri, kompetisi tidak sehat, hingga bias seperti seksisme dan rasisme. Sejumlah riset bahkan menunjukkan bahwa perempuan dan kelompok minoritas lebih rentan mengalami perlakuan ini, terutama saat mereka mencapai posisi tinggi.
Lalu, bagaimana mengenali tanda-tandanya? Berikut beberapa tanda ada
tall poppy syndrome
di lingkungan Anda, melansir
Psychology Today
:
1. Dikritik karena dianggap ‘terlalu ambisius’
Alih-alih diapresiasi, Anda justru kerap mendapat komentar miring saat menunjukkan pencapaian. Label seperti ‘terlalu ambisius’ ‘sok menonjol’, atau ‘berusaha terlalu keras’ mungkin sering Anda dengar.
Dalam budaya yang menjunjung kesetaraan, individu yang tampil berbeda atau lebih unggul kerap dianggap mengganggu keharmonisan kelompok. Tak jarang, kritik tersebut muncul sebagai bentuk pertahanan diri orang lain yang merasa terancam atau tidak percaya diri.
Dampaknya, korban bisa mengalami penurunan rasa percaya diri dan kesulitan menempatkan diri dalam lingkungan sosial.
2. Menghadapi sikap tidak bersahabat di tempat kerja
Di lingkungan profesional, tall poppy syndrome bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus namun berdampak besar. Misalnya, Anda tidak dilibatkan dalam diskusi penting, diabaikan saat ada peluang promosi, atau bahkan sengaja ‘ditahan’ di posisi tertentu.
Beberapa atasan mungkin enggan mempromosikan karyawan berprestasi karena khawatir kehilangan produktivitas tim. Sementara rekan kerja bisa menunjukkan sikap iri melalui komunikasi negatif atau sikap menjauh.
Situasi ini dapat memicu kecemasan, keraguan diri, hingga membuat seseorang enggan menunjukkan potensi terbaiknya.
3. Enggan berkarya karena takut dicemooh
Tak hanya di kantor, fenomena ini juga terasa di dunia kreatif. Banyak individu berbakat memilih menahan diri untuk berkarya karena takut mendapat komentar negatif atau dianggap ‘cringe’.
Dalam konteks budaya, kondisi ini bahkan bisa berkembang menjadi kecenderungan meremehkan karya lokal dan lebih mengagungkan produk luar. Misalnya, seseorang lebih bangga mengapresiasi karya global seperti BTS, tetapi enggan mendukung musisi lokal dengan gaya serupa.
Akibatnya, banyak talenta potensial yang tidak berkembang optimal karena kurangnya dukungan dari lingkungan sendiri.
Cara menghadapi tall poppy syndrome
Jika Anda merasa menjadi sasaran tall poppy syndrome, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
• Sadari ini bukan kesalahan Anda
Perlakuan tersebut lebih mencerminkan rasa tidak aman orang lain, bukan nilai diri Anda.
• Cari lingkungan yang suportif
Pilih komunitas atau tempat kerja yang menghargai pencapaian dan mendorong pertumbuhan.
• Bangun ketahanan diri
Fokus pada validasi internal, bukan sekadar pengakuan eksternal.
• Kembangkan pola pikir bertumbuh
Biasakan merayakan keberhasilan orang lain dan menciptakan budaya positif.
• Pertimbangkan untuk berpindah lingkungan
Jika situasi terus merugikan, mencari tempat baru bisa menjadi pilihan sehat.
Ingat, kesuksesan bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan. Tantangan seperti
tall poppy syndrome
justru menjadi pengingat bahwa tidak semua lingkungan siap merayakan pencapaian.
Namun, selama Anda berada di jalur yang tepat dan memberikan dampak positif, tidak ada alasan untuk merendahkan diri. Berdirilah tegak, karena tumbuh tinggi bukanlah kesalahan.
(tis/tis)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Golden Samoyed]
Baca lagi: Fakta Fenomena Komet MAPS yang Hancur Ditelan Matahari Pekan Lalu
Baca lagi: Wanita Lebih Cepat Alami Perlemakan Hati Setelah Usia 45 Tahun
Baca lagi: Claudia Scheunemann Cetak Assist Pertama untuk Utrecht di Eredivisie



