
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Di antara kamu mungkin pernah berada di fase ketika
hidup
terasa datar, tidak lagi bersemangat, atau hal-hal yang dulu menyenangkan kini terasa hambar. Kondisi ini sering disebut sebagai kehilangan
spark
dalam hidup.
Sekilas, perasaan ini kerap dianggap sekadar lelah atau kurang motivasi. Padahal, secara ilmiah, mati rasa emosional dan hilangnya semangat hidup bisa berkaitan dengan cara otak memproses emosi, stres, dan rasa senang.
Jadi, kondisi ini bukan selalu soal kurang usaha, melainkan bisa menjadi sinyal bahwa sistem emosi sedang kewalahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari
Science Direct
, jurnal bertajuk ‘Anhedonia: A Comprehensive Overview of Neurobiology and Treatment’, menyoroti kondisi ketika seseorang sulit merasakan kesenangan yang disebut dengan anhedonia. Dalam kajian tersebut, anhedonia disebut sebagai faktor penting dalam depresi yang berkaitan dengan gangguan pada sistem reward di otak, termasuk area seperti
nucleus
accumbens
dan
prefrontal cortex
.
Bukan hanya sekadar bosan, orang yang mengalami anhedonia bisa merasa:
– tidak lagi tertarik pada hal yang dulu disukai,
– sulit menikmati momen,
– kehilangan motivasi untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Ketika
spark
hilang, bisa jadi bukan karena kurang usaha, melainkan karena otak sedang kesulitan memproses rasa senang dan dorongan untuk beraktivitas.
Stres berkepanjangan bisa membuat emosi terasa tumpul
Tidak semua stres terlihat jelas, pada sebagian orang, stres justru tidak muncul dalam bentuk cemas atau tangisan, melainkan perasaan kosong.
Penelitian dalam jurnal
Translational Psychiatry
, melalui studi tentang
stress-induced
anhedonia
dan respons neural terhadap
reward
, menemukan bahwa stres kronis dapat memengaruhi cara otak merespons kesenangan.
Saat stres berlangsung lama, sistem emosi bisa seperti diturunkan volumenya. Hasilnya, hidup terasa datar dan kurang bermakna, meski tidak selalu disertai kesedihan yang jelas. Kehilangan semangat juga sering muncul pada kondisi
burnout
atau kelelahan emosional.
Penelitian juga menunjukkan
emotional fatigue
sebagai komponen utama
burnout
bahwa kondisi ini ditandai dengan rasa lelah berkepanjangan, menurunnya keterlibatan emosional, hingga perasaan kosong atau jenuh.
Banyak orang menggambarkan kondisi ini seperti menjalani hidup dengan rutinitas kosong, tetap beraktivitas, tetapi tanpa keterlibatan emosional yang utuh.Ini menjelaskan kenapa seseorang bisa tetap produktif, tetapi merasa tidak benar-benar hadir dalam kehidupannya.
Dari berbagai temuan tersebut, jelas bahwa mati rasa atau kehilangan
spark
hidup tidak bisa disederhanakan sebagai rasa malas atau kurang bersyukur.
Kondisi ini bisa dialami siapa saja, dan sering kali menjadi sinyal bahwa tubuh dan pikiran sedang kewalahan, baik karena stres, kelelahan emosional, maupun faktor psikologis lain.
Menyadari hal ini menjadi langkah awal yang penting. Sebab, memahami apa yang terjadi di balik perasaan tersebut bisa membantu seseorang mengambil langkah yang lebih tepat, tanpa harus sekadar memaksa diri untuk semangat lagi.
(anm/asr)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: FOTO: Kasus Chromebook, Ibam Dituntut 15 Tahun Bui-Bayar Total Rp17 M
Baca lagi: Jakarta Mulai Perang Basmi Ikan Sapu-Sapu Serentak di 5 Kota
Baca lagi: Mendag Sebut Pasokan Bahan Baku Plastik dari India-AS Sedang Menuju RI


