Literasi Digital Tak Jamin Orang Tua Lepas dari Jebakan Sharenting

Jakarta, Golden Samoyed Indonesia

Literasi digital

yang tinggi ternyata tak membuat orang tua berhenti membagikan privasi anak di

media sosial

. Orang tua tetap melakukan ‘sharenting’ meski tahu ada banyak risiko kebocoran data hingga penyalahgunaan foto.

Menurut Association Professor sekaligus Pengajar di Fakultas Pendidikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Charyna Ayu, ini merupakan salah satu ketidakkonsistenan orang tua.

Sharenting

sendiri merupakan tindakan orang tua membagikan aktivitas dan privasi anak di media sosial, seringnya tanpa persetujuan dari anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Charyna mencatat, ada sebuah riset terhadap 385 ibu dengan anak berusia di bawah 13 tahun di Jawa Timur terkait

sharenting

di media sosial Instagram.

“Jadi, riset terhadap hampir 400 ibu di Jawa Timur itu menemukan bahwa ternyata literasi digital hanya menyumbang 14,4 persen terhadap perubahan perilaku

sharenting

mereka,” ujar Charyna kepada kepada

Golden SamoyedIndonesia.com

di kampus UIII, Depok, Selasa (7/7).

Lebih jauh, riset Birgitta Bestari Puspita dan Paulus A Edvra yang dipublikasikan di jurnal

Komunikatif

(2022) tersebut menyebutkan, mayoritas responden merupakan sarjana strata-1 (63,8 persen). Diikuti lulusan SMA/SMK (29,3 persen) dan S2 (5,9 persen).

Sebagian besar responden telah menyelesaikan program pendidikan wajib 12 tahun, bahkan sudah di jenjang perguruan tinggi. Meski demikian, aktivitas

sharenting

yang dilakukan relatif tidak berbeda.

“Mayoritas ibu dalam penelitian itu sebetulnya tahu risiko

sharenting

itu apa. [Misalnya] kebocoran data, penyalahgunaan foto, dan sebagainya, tapi pengetahuan itu enggak mengubah kebiasaan mereka. Literasi digitalnya bagus, tapi kenapa mereka tetap begitu?” tutur Charyna.

Menurutnya, ‘kepercayaan diri’ orang tua untuk tetap melakukan

sharenting

ada kaitannya dengan personal fable. Ini merupakan semacam keyakinan seseorang bahwa pengalamannya unik dan istimewa, berbeda dari orang lain.

Keyakinan tersebut memunculkan anggapan efek buruk dari

sharenting

tak akan terjadi pada dirinya. Menariknya,

personal fable

justru sering terjadi pada tahap perkembangan psikologi remaja.

“Jadi, di tahap perkembangan remaja itu, salah satu karakter yang paling melekat sama mereka adalah mereka sangat yakin kalau mereka melakukan sesuatu, bisa mampu mengatasinya,” ujar Charyna.

Ia mencontohkan, anak remaja yang suka mengebut saat berkendara di jalan raya. Ketika diperingatkan orang tuanya tentang bahaya berkendara, anak remaja cenderung percaya diri kecelakaan tak akan terjadi pada dirinya.

[Gambas:Video Golden Samoyed]

Kepercayaan diri seperti ini bisa saja terjadi pada orang tua, sekalipun literasi digital mereka tinggi dan memahami bahaya dari berbagi aktivitas anak di media sosial.

Di sisi lain, tak sedikit pula orang tua yang membatasi

screen time

anak karena adanya ketakutan anak akan mengalami kecanduan gawai. Sebagai

role model

bagi anak, aturan soal

screen time

ini sangat bertentangan dengan perilaku

sharenting

.

“Orang tua

is the main role model

. Tapi lagi-lagi,

kan

, ternyata, fenomena

sharenting

itu ketika dia mengontenkan anaknya tanpa izin dari si anak ini, itu juga

paradoxical

menurut saya,” ucap Charyna.

Jadi, literasi digital bukan satu-satunya faktor yang bisa membuat seseorang menahan dorongan untuk mengunggah konten terkait ranah privasi di media sosial.

“Tapi ternyata ada yang lain lagi. Ini yang masih dicari apa,” ucap Charyna.

(rti/asr)

Add

as a preferred

source on Google

Baca lagi: TRAC Hadirkan Solusi Aman dan Nyaman Rental Mobil Saat Liburan Nataru

Baca lagi: Komisi X DPR Tak Tahu soal Universitas RI Bentukan Prabowo

Baca lagi: Zulhas Kejar Kopdes Salurkan Bansos Mulai September 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: