
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tengah bergerak cepat menyiapkan sejumlah langkah strategis demi menyukseskan proses revalidasi status
Raja Ampat
di Papua Barat Daya sebagai UNESCO Global Geopark.
Fokus utama pembenahan ini tertuju pada penguatan tata kelola destinasi pariwisata yang berkelanjutan atau
sustainable tourism
.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menyatakan pihaknya telah meninjau langsung kawasan Raja Ampat untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta para pelaku industri pariwisata setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu poin krusial yang menjadi perhatian Kemenpar adalah daya dukung lingkungan terhadap aktivitas wisata, terutama bagi pencinta olahraga selam.
“Kami melihat apa saja yang perlu diperbaiki. Harus ada penghitungan
carrying capacity
(daya dukung) dari setiap destinasi wisata selam, termasuk mendata berapa jumlah kapal yang ideal untuk datang ke sana,” ujar Widiyanti usai membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata di Kantor Kemenpar, Jakarta, Rabu (20/5), seperti dilansir
Detik
.
Untuk melindungi kelestarian terumbu karang dari kerusakan fisik akibat jangkar kapal wisata, pemerintah akan menerapkan dua kebijakan utama di sektor sarana prasarana di antaranya,
– Pemasangan 136
mooring buoys
(pelampung tambat): Fasilitas ini akan disebar di titik-titik strategis Raja Ampat agar kapal-kapal wisata dapat menambatkan talinya tanpa harus menjatuhkan jangkar besi ke dasar laut yang merusak karang.
– Standardisasi Akomodasi Hijau: Mendorong penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan secara menyeluruh, mulai dari operasional hotel besar hingga penginapan (
homestay
) milik warga lokal.
Selain perlindungan bawah laut, tata kelola limbah menjadi tantangan berat yang harus segera dirumuskan solusinya. Widiyanti menegaskan bahwa regulasi mengenai larangan membuang sampah di tengah laut bagi kapal-kapal penyedia jasa wisata akan ditegakkan secara ketat.
Kemenpar juga menyoroti pasokan sampah domestik yang terbawa arus sungai dari wilayah daratan hingga mencemari ekosistem laut Raja Ampat.
“Sampah saat ini sudah menjadi isu nasional. Salah satu solusinya, kita mungkin harus memasang jaring di muara-muara sungai agar sampah dari darat tidak lolos ke laut. Ini membutuhkan upaya yang luar biasa serta perhitungan biaya operasional yang matang bersama,” paparnya.
Tim asesor dari UNESCO sendiri dijadwalkan bakal menyambangi Raja Ampat pada Agustus mendatang. Kunjungan lapangan tersebut bertujuan untuk menilai kembali kelayakan dan komitmen pengelolaan kawasan tersebut demi mempertahankan predikat bergengsi sebagai UNESCO Global Geopark.
(wiw)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Golden Samoyed]
Baca lagi: Kapasitas Data Center di Indonesia Ditarget Tembus 1,65 GW Akhir 2026
Baca lagi: Daftar Artis Naik Haji 2026, Raffi Ahmad hingga Anang-Ashanty
Baca lagi: Kebakaran Satpas SIM Daan Mogot, 8 Mobil Damkar Diterjunkan



