
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Tidak semua masalah di tempat
kerja
disebabkan oleh beban kerja yang terlalu berat. Tanpa disadari, kurangnya tantangan dan rutinitas yang berulang dapat membuat karyawan kehilangan motivasi secara perlahan. Hal inilah yang kemudian dikenal dengan istilah
boreout
.
Banyak karyawan tetap datang ke kantor dan menyelesaikan tugas, tetapi merasa tidak memiliki semangat maupun tujuan dalam bekerja. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental, produktivitas, hingga perkembangan karier.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi perusahaan, karyawan yang mengalami
boreout
juga dapat meningkatkan risiko penurunan kinerja dan tingginya angka turnover.
Oleh karena itu, memahami penyebab serta dampaknya menjadi langkah penting agar kondisi ini dapat dicegah sejak dini.
Apa itu boreout?
Melansir dari Mentor Cliq,
boreout
adalah kondisi ketika seseorang mengalami kebosanan kronis di tempat kerja akibat pekerjaan yang terlalu monoton, minim tantangan, atau tidak memberi kesempatan untuk berkembang.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Peter Werder dan Philippe Rothlin pada tahun 2007 untuk menggambarkan fenomena karyawan yang kehilangan motivasi karena kurangnya stimulasi dalam pekerjaan.
Berbeda dengan rasa bosan sesaat,
boreout
berlangsung dalam waktu yang lama sehingga dapat mengikis keterlibatan, kreativitas, dan rasa percaya diri. Seseorang mungkin tetap hadir dan menyelesaikan tugasnya setiap hari, tetapi secara emosional sudah tidak lagi merasa terhubung dengan pekerjaannya.
Kondisi ini juga sering disalahartikan sebagai kemalasan. Padahal, banyak orang yang mengalami
boreout
sebenarnya memiliki kemampuan lebih besar, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi tersebut.
Boreout
sering dianggap sebagai kebalikan dari burnout karena dipicu oleh kurangnya tantangan dan beban kerja, bukan tekanan kerja yang berlebihan. Meski penyebabnya berbeda, keduanya bisa sama-sama memengaruhi kondisi mental karyawan.
Penyebab boreout
Berikut penyebab utama yang dapat memicu
boreout
, baik yang berasal dari lingkungan kerja maupun diri sendiri.
1. Pekerjaan yang kurang menantang
Karyawan yang terus-menerus mengerjakan tugas sederhana dan berulang cenderung lebih cepat merasa bosan. Kurangnya variasi membuat pekerjaan kehilangan nilai dan tidak lagi memberikan kepuasan.
2. Budaya perusahaan yang minim inovasi
Lingkungan kerja yang tidak mendorong ide baru atau pengembangan diri dapat membuat karyawan merasa stagnan. Akibatnya, mereka sulit menemukan motivasi untuk memberikan kontribusi lebih.
3. Beban kerja terlalu ringan
Tidak semua masalah muncul karena pekerjaan yang terlalu banyak. Beban kerja yang terlalu sedikit juga dapat membuat seseorang merasa tidak memiliki peran penting dalam organisasi sehingga memicu rasa tidak berdaya.
4. Sulit keluar dari zona nyaman
Sebagian orang sebenarnya memiliki kesempatan untuk mencoba tantangan baru, tetapi memilih tetap berada dalam rutinitas karena takut gagal atau kurang percaya diri. Sikap ini dapat memperpanjang rasa bosan di tempat kerja.
5. Kurangnya kesempatan berkembang
Minimnya pelatihan, promosi, atau rotasi pekerjaan membuat karyawan merasa tidak memiliki arah karier yang jelas. Lambat laun, kondisi tersebut dapat menurunkan motivasi bekerja.
Simak selengkapnya tentang boreout di halaman berikutnya..
Bahaya boreout
Jika tidak segera ditangani,
boreout
dapat memberikan dampak serius sebagai berikut.
1. Menurunkan kesehatan mental
Pekerjaan yang terasa tidak bermakna dapat memicu perasaan sedih, hampa, hingga kecemasan. Sebagian orang juga merasa takut dianggap tidak produktif sehingga mengalami stres meskipun beban kerjanya ringan.
2. Mengurangi rasa percaya diri
Jarangnya menggunakan kemampuan dan keterampilan membuat seseorang merasa kompetensinya semakin menurun. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memunculkan
imposter syndrome
atau keraguan terhadap kemampuan diri sendiri.
3. Memicu sikap apatis terhadap pekerjaan
Rasa bosan yang terus berlangsung dapat berubah menjadi apatis. Karyawan hanya bekerja sekadar memenuhi kewajiban tanpa memiliki antusiasme untuk memberikan hasil terbaik.
4. Meningkatkan risiko resign
Ketika pekerjaan tidak lagi memberikan tantangan maupun peluang berkembang, karyawan cenderung mulai mencari kesempatan kerja lain yang lebih menarik. Hal ini berpotensi meningkatkan angka turnover perusahaan.
5. Menurunkan produktivitas dan merugikan perusahaan
Karyawan yang tidak terlibat secara emosional biasanya menghasilkan produktivitas yang lebih rendah. Perusahaan pun harus menanggung kerugian akibat menurunnya kinerja, biaya perekrutan ulang, hingga hilangnya potensi inovasi.
6. Menghambat perkembangan karier
Boreout
membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk mengasah kemampuan dan memperluas pengalaman. Akibatnya, peluang memperoleh promosi jabatan atau peningkatan penghasilan juga menjadi lebih kecil.
Pada akhirnya, mengenali
boreout
sejak dini dapat membantu menjaga kesehatan mental sekaligus meningkatkan kepuasan dalam bekerja. Baik karyawan maupun perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang memberikan ruang untuk berkembang agar produktivitas dan motivasi tetap terjaga dalam jangka panjang.
Kebalikan dari Burnout, Boreout Juga Mengancam Karyawan, Apa Itu?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: WhatsApp Web Kini Bisa Telepon dan Video Call, Begini Caranya
Baca lagi: Pembukaan MPLS Sekolah Rakyat Wonosobo Diwarnai Haru Orang Tua Siswa
Baca lagi: Kubu Ruben Bantah Selingkuh dan Pinjol, Tantang Sarwendah Buktikan




One Response
Artikel ini sangat informatif dan memberikan banyak wawasan baru. Cara penyampaiannya juga membuat pembaca tidak mudah bosan. Terima kasih atas kontennya. Jangan lupa mengunjungi ULTRARUBY.