Kala Hidup Pelan Ibarat Kemewahan, Soft Living Sebenarnya buat Siapa?

Jakarta, Golden Samoyed Indonesia

Di media sosial,

soft living

terdengar seperti hidup yang ideal. Bangun tanpa tergesa,

kerja

tanpa merasa terus dikejar, pulang masih punya energi, lalu menikmati malam tanpa rasa bersalah karena tidak ‘cukup produktif’.

Istilah ini biasanya datang dengan suasana yang serba tenang, pagi yang lengang, rutinitas yang tidak meledak-ledak, dan hidup yang tidak selalu diukur dari seberapa sibuk seseorang terlihat.

Setelah bertahun-tahun dijejali narasi

hustle culture

,

soft living

terasa seperti napas baru. Hidup yang lembut, lebih seimbang dan terdengar lebih manusiawi. Tapi, begitu layar ponsel dimatikan, realitanya tidak sesederhana itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi banyak pekerja muda di Indonesia, hidup justru berjalan dengan ritme yang padat. Pagi berangkat kerja, malam belum tentu benar-benar selesai. Ada yang lembur, ada yang masih buka laptop lagi di rumah, ada yang cari proyek sampingan, ada juga yang menyambi jualan atau

freelance

supaya kebutuhan bulanan tetap tertutup. Pada titik itu,

soft

living

terdengar menarik, tapi sekaligus terasa jauh.

Pertanyaannya lalu bukan cuma ‘apa itu

soft living

‘, melainkan ‘siapa yang benar-benar punya ruang untuk menjalaninya’.

Bukan sekadar tren hidup estetik

Soft living

bisa dipahami sebagai cara hidup yang memprioritaskan ketenangan mental, rasa aman emosional, dan ritme yang lebih seimbang dibanding dorongan untuk terus produktif. Bukan berarti anti-kerja keras, konsep ini hanya tidak lagi menempatkan kerja sebagai satu-satunya pusat hidup.

Sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sumatera Utara (USU), Rahman Malik melihat,

soft

living

bukan sekadar tren gaya hidup yang sedang populer, melainkan respons atas tekanan sosial modern yang menuntut orang terus bergerak, terus kompetitif, dan terus terlihat berhasil.

“Kalau saya lebih melihat bahwa

soft

living

itu bentuk resistensi dari gaya hidup yang menuntut kerja keras.

Soft

living

itu respons terhadap tekanan sosial,” kata Rahman kepada

Golden SamoyedIndonesia.com

, Senin (13/4).

Menurutnya,

soft

living

lahir dari keinginan untuk tidak terus hidup dalam tekanan harus sukses cepat, harus selalu produktif, dan harus terus mengejar sesuatu. Karena itu, konsep ini tidak bisa dibaca hanya sebagai pilihan pribadi, tapi juga sebagai gejala sosial.

Namun, di Indonesia, gagasan hidup lebih pelan itu justru berbenturan dengan kenyataan sehari-hari.

‘Rasanya bukan soft living, tapi survival mode’

Khansa, 22 tahun, saat ini sedang magang sambil mencari peluang

volunteer

dan pekerjaan tambahan lain. Buat dia,

soft

living

terdengar menarik, tapi sulit dibayangkan sebagai sesuatu yang realistis sekarang.

“Enggak,

sih

. Di ekonomi sekarang, rasanya susah banget. Banyak pekerjaan gajinya di bawah UMR, dan UMR pun buat satu orang saja belum tentu longgar, apalagi kalau masih harus

mikirin

banyak hal lainnya,” katanya.

Ia merasa hidup pelan sulit dijalani bukan cuma karena uang, tapi juga karena tekanan untuk terus bergerak dan tidak tertinggal.

“Buat aku bukan cuma soal cari penghasilan. Ada tekanan cari pengalaman, cari peluang, dan takut ketinggalan. Apalagi banyak lowongan pakai batas umur, banyak yang sudah lebih dulu punya pengalaman, sementara kita masih

nyari-nyari

pijakan,” curhatnya.

Karena itu, Khansa mengaku sering merasa harus mengambil banyak hal sekaligus. Magang,

volunteer

, cari pengalaman lain, bahkan membuka kemungkinan kerja sampingan bila perlu.

“Kadang bukan cuma buat uang, tapi juga buat CV. Takut kalau diam saja, nanti enggak punya apa-apa buat

ditunjukin

,” tambahnya.

Suara yang mirip datang dari salah seorang pekerja swasta, Yesika (24). Baginya, istirahat di fase sekarang justru sering terasa seperti kemewahan.

“Jujur, di fase sekarang istirahat itu kayak kemewahan. Soalnya tiap ada waktu luang, otak otomatis mikir, ‘sayang waktunya, mending dipakai cari cuan’,” ujarnya.

Ia bercerita bahwa ritme kerjanya memang ketat.

Deadline

rapat, hasil kerja harus melewati review atasan, sementara jadwal atasan sendiri tidak selalu mudah dikejar. Akibatnya, waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk istirahat sering malah berubah jadi waktu kerja tambahan.

“Daripada waktuku kupakai buat santai atau

drakor-an

, mending aku kerja dan dibayar. Agak materialistis

sih

, tapi memang sekarang

mikirnya

begitu,” katanya sambil tertawa.

Menurut dia, tekanan untuk terus produktif justru lebih banyak datang dari diri sendiri.

“80 persen dari diri sendiri, jujur. Karena aku tahu apa yang aku mau, mau beli ini itu, dan aku sadar harganya mahal. Tuntutan kerja cuma faktor pendukung

aja

. Emang hukum alamnya, mau

reward

gede ya

effort

-nya harus

jor-joran

.”

Dari dua cerita itu, terlihat bahwa banyak pekerja muda sebenarnya tidak menolak gagasan hidup yang lebih seimbang. Mereka justru menginginkannya. Hanya saja, hidup sekarang sering membuat keinginan itu terasa seperti kemewahan.

Simak ulasan soal kemewahan soft living di halaman berikutnya..

Masalah terbesar

soft living

mungkin bukan pada konsepnya, tapi pada ongkos untuk menjalankannya.

Untuk pekerja muda yang tinggal sendiri di kota besar seperti Jakarta, pengeluaran bulanan tidak berhenti di kos dan makan. Ada transportasi, kuota internet, kebutuhan mandi dan cuci, uang jajan, kopi sesekali, nongkrong ringan, sampai kebutuhan kecil yang kalau dikumpulkan justru terasa besar.

Mengutip data

BPS DKI Jakarta

, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan di DKI Jakarta pada 2025 mencapai Rp2,9 juta. Angka itu terdiri dari Rp1,1 juta untuk makan dan Rp1,8 juta untuk kebutuhan selain makanan.

Sementara itu, UMP DKI Jakarta 2026 ditetapkan sebesar Rp5.729.876 per bulan. Di Jakarta Selatan, rata-rata pengeluaran per kapita bahkan tercatat lebih tinggi, yakni Rp3,6 juta per bulan.

Angka di atas bukan hitungan khusus untuk pekerja muda yang ngekos. Jika ditambah biaya kosan, ruang gerak akan cepat menyempit. Belum lagi jatah tabungan dan biaya tetek bengek lainnya yang tidak terduga.

Itung-itungan di atas memberi gambaran bahwa biaya hidup di ibu kota memang tidak kecil. Apa lacur, hidup pelan bukannya tidak diinginkan, tapi memang terasa utopis. Karena, bagaimana pun caranya, dapur harus tetap

ngebul

.

Soft living adalah privilege

Rahman menilai, karena alasan itu

soft living

pada praktiknya lebih dekat ke privilege dibanding sesuatu yang bisa diakses semua pekerja.

“Saya lebih sepakat

soft living

itu

privilege

bagi orang-orang tertentu, terutama kelas menengah ke atas,” katanya.

Menurut dia, orang yang pendapatannya lebih aman atau punya fleksibilitas kerja lebih besar tentu lebih mudah menjalani ritme hidup yang tenang. Sementara untuk pekerja dengan jam kerja kaku, penghasilan terbatas, dan tekanan ekonomi yang lebih besar,

soft living

sulit dijadikan cara hidup penuh waktu.

“Untuk pekerja menengah ke bawah, buruh, atau yang serabutan, konsep ini kurang tepat kalau dipahami sebagai gaya hidup penuh. Karena mereka dituntut harus bekerja keras. Kalau tidak seperti itu, penghasilannya tidak cukup,” papar Rahman.

Dalam situasi seperti itu, wajar bila banyak orang akhirnya mengambil strategi bertahan, kerja utama, lembur, lalu cari tambahan lagi. Hidup bukan diatur oleh idealisme soal ritme pelan, tapi oleh kebutuhan yang terus datang tiap bulan.

[Gambas:Photo Golden Samoyed]

Bentuk

soft living

yang paling realistis untuk pekerja Indonesia, menurut Rahman, bukan fokus pada hidup santai sepenuhnya, melainkan cara kerja yang sedikit lebih manusiawi. Misalnya, tekanan yang tidak terus-menerus, waktu istirahat yang dihormati, fleksibilitas kerja, atau ruang untuk refreshing tanpa dianggap kurang serius.

Refreshing

itu juga bagian dari

soft living

sebenarnya. Tidak harus selalu di kantor penuh. Pengurangan tekanan pekerjaan, lalu

reward

bagi pekerja, itu juga penting,” jelasnya.

Artinya,

soft living

mungkin tidak selalu harus hadir dalam bentuk hidup yang sangat tenang dan serba estetik seperti di media sosial. Dalam konteks pekerja Indonesia, bentuknya bisa lebih sederhana, pulang tepat waktu, tidak selalu merasa bersalah saat istirahat, punya hari tanpa lembur, atau bisa menolak ritme kerja yang menghabiskan seluruh energi.

Buat Khansa, hidup yang lebih pelan tetap jadi sesuatu yang diinginkan, hanya saja belum terasa realistis sekarang.

“Kalau situasinya lebih aman, siapa

sih

yang enggak mau? Aku juga mau. Cuma mungkin sekarang belum bisa sepenuhnya,” ujarnya.

Di titik ini,

soft living

terasa seperti lebih dari sekadar tren. Ia menjadi cermin kecil dari kegelisahan pekerja hari ini.

Di satu sisi, banyak orang mulai sadar bahwa hidup yang terlalu penuh tekanan tidak sehat.

Mereka ingin bekerja tanpa habis, ingin punya waktu untuk diri sendiri, ingin bernapas tanpa terus merasa tertinggal. Namun di sisi lain, realitas upah, biaya hidup, dan ketidakpastian kerja membuat keinginan untuk menjalankan

soft living

tidak selalu mudah diwujudkan.

Add

as a preferred

source on Google

Soft Living Adalah ‘Privilege’, Bukan buat Semua Orang

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: Salmokji Jegal Project Hail Mary di Box Office Mingguan Korea

Baca lagi: Tempat-Tempat Bersejarah dalam Islam yang Bisa Dikunjungi di Madinah

Baca lagi: Kemlu Surati Kemhan Wanti-wanti Wacana AS Bebas Terbang di RI

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: