
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Berdiri megah melintasi Sungai Nil di Kairo,
Mesir
, Jembatan Rod El Farag Axis atau yang juga dikenal sebagai Jembatan Tahya Misr, resmi memegang rekor Guinness World Records sebagai jembatan terlebar di dunia.
Pembuatan mahakarya rekayasa teknik senilai miliaran pound sterling ini sekarang sudah dapat dinikmati publik secara gratis.
Jembatan berjenis kabel pancang ini membentang dengan lebar fantastis mencapai 67,3 meter. Jembatan ini dirancang dengan enam jalur kendaraan di masing-masing arahnya, sekaligus menjelma sebagai salah satu destinasi wisata populer bagi para turis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pejalan kaki yang berkunjung dapat menyusuri Jalur Khusus Pejalan Kaki yang menyajikan pemandangan indah Sungai Nil. Uniknya, di beberapa bagian jalur ini terpasang panel lantai kaca transparan, memberikan sensasi seolah-olah pengunjung sedang melayang di atas aliran sungai yang deras.
Sebagai jalan umum, publik dan wisatawan dapat melintasinya secara gratis sembari menikmati pemandangan indah Kota Kairo.
Proyek raksasa ini dikerjakan oleh Otoritas Rekayasa Angkatan Bersenjata Mesir (AFEA) yang bekerja sama dengan sejumlah perusahaan nasional. Pembangunannya memakan waktu empat tahun dan resmi rampung pada 2019.
Menurut Ihab Alphar, Ketua AFEA, biaya dasar pembangunan proyek monumental ini menelan anggaran fantastis mencapai 7,43 miliar pound sterling atau sekitar Rp178,25 triliun.
Jembatan ini memiliki panjang bentang 540 meter dengan menara suspensi setinggi 92 meter serta dilengkapi dengan tujuh akses ramp keluar-masuk.
Tak kurang dari 4.000 pekerja yang terdiri dari insinyur, teknisi, hingga buruh dikerahkan secara intensif untuk menyelesaikan mega proyek tersebut.
Chief Executive Officer
sekaligus Chairman Arab Contractors Company, Mohsen Salah, mengungkapkan tim insinyur yang bertanggung jawab atas pembangunan proyek ini menghadapi berbagai tantangan berat yang akhirnya berhasil diatasi melalui inovasi teknik lokal.
Salah satu tantangan terbesarnya adalah mobilisasi gelagar baja seberat 226,8 ton ke area perakitan di tengah sungai. “Selama puncak masa konstruksi, kami mengerahkan hingga 200 unit crane di lokasi proyek untuk mempercepat pembangunan,” ujar Mohsen, seperti dilansir
Mirror
.
Tak hanya itu, tim konstruksi bahkan harus merancang dan merakit dua kapal feri khusus yang cukup tangguh untuk mengangkut peralatan berat dengan bobot mencapai 544,3 ton menuju zona perakitan utama.
(wiw)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Golden Samoyed]
Baca lagi: Menteri India Buka Suara Usai Dituntut Mundur oleh Partai Kecoak
Baca lagi: Daftar Harga Tiket Fan Meeting Byeon Woo-seok Jakarta 2026
Baca lagi: PP Tunas Sudah Berjalan, Apakah Ruang Digital Lebih Ramah Anak?




4 Responses
Wah, ulasannya menarik banget min, ngasih banyak sudut pandang baru yang bermanfaat. Makasih ya udah share. Kebetulan saya sempet baca bahasan pelengkap yang seru juga di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320134085_htm
Terima kasih buat pencerahannya hari ini. Artikelnya ngebantu banget buat nambah pemahaman saya. Saya sempat baca bahasan sejenis dengan pembahasan mendetail di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297571563_htm
Wah, penjelasan yang luar biasa informatif. Sangat mencerahkan pikiran saya mengenai topik ini. Bagi yang sedang mencari bacaan pendukung, silakan kunjungi https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297428121_htm
Mantap ulasannya! Informatif sekali dan langsung to the point tanpa bertele-tele. Sekadar berbagi referensi pelengkap, buat yang mau mendalami materi serupa bisa mampir ke https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297194078_htm