
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Kalau kamu pernah main gim atau nonton serial
The Last of Us
, pasti sudah tidak asing dengan jamur
Cordyceps militaris
. Dalam serial 2023 tersebut,
Cordyceps
disebut sebagai penyebab wabah zombie.
Namun di dunia nyata, jamur ini tak berbahaya bagi manusia. Bahkan pada perkembangan terakhir, sejumlah peneliti dari China mampu mengubah
jamur
parasit pada ulat tersebut menjadi
gaun
cantik yang
biodegradable
.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gaun dari jamur Cordyceps
Menjawab tantangan
fast fashion
dan berton-ton limbahnya yang sulit untuk didaur ulang, para peneliti ini mengembangkan cara untuk membuat pakaian dan tekstil dari
Cordyceps
yang
biodegradable
.
Tak hanya itu, gaun berbahan jamur ini dapat membersihkan diri sendiri dan beregenerasi. Kainnya juga bisa dikustomisasi, misalnya menambahkan warna atau melindungi pemakainya dari sinar ultraviolet dengan bantuan mikroorganisme lain.
Penelitian ini dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Shenzhen Institutes of Advanced Technology (SIAT) yang bereksperimen membuat
engineered living materials
(ELM) menggunakan jamur
Cordyceps
.
Adapun jamur ulat ini banyak digunakan dalam pengobatan tradisional China dan bisa membentuk struktur seperti benang.
Soal sifat kain dari jamur ini yang biodegradable, penilaian lingkungan mengonfirmasi bahwa material tersebut bisa terdegradasi dalam waktu 41 hari. Ini menjadi sinyal baik untuk mendukung
circular fashion
atau pakaian yang dirancang untuk digunakan kembali atau didaur ulang.
Ke Li, penulis utama dalam studi ini yang dipublikasi di jurnal
Science Advances
pada Juli 2026, menggambarkan kain dari jamur ini memiliki signifikansi melampaui produk gaun yang dibuat oleh para peneliti.
“Konsep yang lebih luas dapat meluas melampaui pakaian di mana pun struktur yang dapat terurai secara hayati dengan fungsi biologis yang dapat diprogram secara lokal bermanfaat,” kata Li, seperti dilansir
South China Morning Post
pada Senin (27/7).
Cara pembuatan kain dari jamur
Li menjelaskan, jamur
Cordyceps
dapat membentuk jaringan serat mikroskopis secara alami yang disebut hifa. Para peneliti pun membudidayakan jamur untuk dibuat jadi pelet kecil.
Pelet-pelet tersebut kemudian disusun untuk membentuk lembaran kontinu dan fleksibel. Gliserol lalu ditambahkan untuk membuat lembaran ini jadi lebih fleksibel. Kain yang sudah jadi ini dapat merespons lingkungan dan memperbaiki diri sendiri.
“Tekstil hidup bukan berarti gaun tersebut terus tumbuh selama penggunaan normal,” ucap Li. Dalam kondisi kering dengan paparan nutrisi terbatas, aktivitas biologis material dapat terhenti.
Selain bisa memperbaiki diri, serat-serat kain ini juga tahan air secara alami. Jadi, bisa mengurangi kebutuhan akan lapisan kimia sintetis.
Namun Li sendiri mengakui, material dari jamur
Cordyceps
ini tak bisa langsung menggantikan kain katun atau poliester yang dipakai sehari-hari.
Namun ketimbang dipakai untuk membuat pakaian tahan lama, material ini bisa dipakai untuk membuat produk fesyen jangka pendek, misalnya untuk kebutuhan pameran, instalasi seni, hingga kemasan yang bisa terurai secara hayati.
Agar produk ini layak dijual komersial, para peneliti perlu menemukan cara untuk membuat proses manufaktur lebih hemat biaya. Li juga mengatakan timnya mencari cara untuk mengurangi penambahan mikroba, sehingga jamur dapat menciptakan molekul fungsional, seperti pigmen.
Jika produk fesyen dengan material ini sudah mulai dikomersilkan, apakah kamu tertarik untuk mencobanya?
(rti)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: WhatsApp Web Kini Bisa Telepon dan Video Call, Begini Caranya
Baca lagi: Harga Minyak Dunia Mendidih ke US$87,39 Imbas Memanasnya Timur Tengah
Baca lagi: FOTO: Melihat Toko Pop Mart Spesial Bakery Pertama di Asia Tenggara



