
Daftar Isi
Alasan kenapa kamar mandi hotel tidak ada gayung
1. Desain pemisahan area kering dan basah
2. Standar keselamatan tamu
3. Kontrol sanitasi dan pencegahan kontaminasi bakteri
4. Efisiensi air
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Mengapa sebagian besar kamar mandi hotel tidak menyediakan gayung? Ternyata, alasan kenapa kamar mandi
hotel
tidak ada gayung berkaitan dengan banyak aspek.
Mulai dari desain
kamar mandi
, keselamatan tamu, kebersihan, hingga upaya menghemat penggunaan air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai gantinya, hotel biasanya menyediakan shower dan bidet sprayer yang menggunakan sistem air langsung dari saluran pipa.
Sebenarnya, ketiadaan gayung bukan sekadar persoalan kebiasaan atau gaya kamar mandi modern.
Penggunaan air yang lebih terkontrol dan lantai yang tidak mudah tergenang menjadi beberapa pertimbangan penting bagi pengelola hotel.
Alasan kenapa kamar mandi hotel tidak ada gayung
Lantas, apa saja alasan di balik ketiadaan gayung di kamar mandi hotel?
1. Desain pemisahan area kering dan basah
Melansir dari buku arsitektur perhotelan Hotel Design, Planning and Development karya Richard H. Penner, dkk konsep tata ruang modern menerapkan pemisahan ketat antara area kering dan basah (wet and dry zoning).
Area basah meliputi shower enclosure atau bathtub, sedangkan area kering yaitu toilet dan vanity area.
Gayung berpotensi menghasilkan percikan air tak terkendali ke seluruh penjuru ruangan. Cipratan tersebut membasahi lantai area kering, merusak perabot kayu, serta memicu pertumbuhan jamur (mold and mildew).
2. Standar keselamatan tamu
Berdasarkan panduan manajemen risiko kamar mandi oleh American Hotel & Lodging Educational Institute (AHLEI), insiden terpeleset dan jatuh (slip and fall) merupakan salah satu klaim liabilitas hukum terbesar bagi pengelola hotel.
Material lantai kamar mandi umumnya memakai ubin keramik atau marmer yang sangat licin bila terkena air.
Mengeliminasi gayung dan bak penampung otomatis menghentikan terbentuknya genangan air di jalur lalu lintas utama tamu sehingga risiko cedera fatal dapat ditekan seminimal mungkin.
3. Kontrol sanitasi dan pencegahan kontaminasi bakteri
World Health Organization (WHO) melalui Guidelines for Drinking-water Quality menegaskan tingginya risiko kontaminasi pada wadah air terbuka di fasilitas publik.
Air tergenang di dalam ember atau sisa basah pada permukaan gayung menjadi sarang ideal bagi mikroorganisme, lumut, hingga jentik nyamuk.
Oleh sebab itu, hotel mengadopsi sistem plumbing tertutup dengan direct pressure shower dan bidet sprayer agar air mengalir higienis langsung dari pipa tanpa kontak tangan perantara.
4. Efisiensi air
Kriteria sertifikasi bangunan hijau USGBC LEED untuk sektor Hospitality mewajibkan hotel memasang pembatas debit air terukur, seperti
low-flow aerated shower heads
dan
dual-flush toilets.
Penggunaan gayung tidak memiliki mekanisme pembatas debit (flow restrictor), sehingga konsumsi air sulit terkontrol.
Hal itu pun sejalan dengan laporan dari Green Pearls menunjukkan bahwa kebutuhan air harian di hotel tergolong sangat tinggi, yakni mencapai 1.500 liter per kamar tiap harinya.
Angka tersebut jauh melampaui penggunaan air masyarakat setempat, bahkan di beberapa wilayah konsumsi air sektor pariwisata tercatat delapan kali lipat lebih boros dibanding warga lokal.
(gas/fef)
Baca lagi: FOTO: Setelah 17 Tahun, Lucas Museum of Narrative Art Akhirnya Rampung
Baca lagi: Resmi Lepas Gelar, Pangeran Harry dan Meghan Jadi Rakyat Biasa
Baca lagi: FOTO: Teater Misterius Berusia 500 Tahun di Afrika Diakui UNESCO



2 Responses
Luar biasa ringkas tapi sarat isi! Pembahasannya langsung mengena ke poin utama tanpa perlu basa-basi berlebihan. Sangat menikmati membacanya. https://tirto88summer.com
Sangat tersentuh dengan cara penulis menempatkan empati di atas efisiensi angka. Membangun budaya kerja yang sehat memang butuh proses dan kepedulian nyata. https://wijaya88saga.xyz