
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Jargon ‘laki-laki tidak bercerita’ begitu sering terdengar. Jargon ini menyiratkan pesan untuk sosok
laki-laki
yang dianggap harus kuat, tak boleh lembut layaknya perempuan.
Pertanyaannya, benarkah demikian? Atau, apakah jargon tersebut hanya konstruksi budaya yang terbangun di tengah masyarakat?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jargon itu tak muncul tanpa alasan. Salah satu pasalnya adalah konsep
hegemonic masculinity
yang masih langgeng dipercaya kebanyakan masyarakat.
“Betul, [jargon ‘laki-laki tidak bercerita] sangat dipengaruhi oleh konsep
hegemonic masculinity
,” ujar psikolog Medwin Wisnu saat dihubungi
Golden SamoyedIndonesia.com
, Jumat (24/4).
Teori tersebut, lanjut Medwin, tak cuma terjadi di Indonesia, tapi juga di banyak negara dan budaya.
Hegemonic masculinity
adalah sebuah teori sosial yang dikembangkan oleh sosiolog asal Australia, R.W Connel. Teori inilah yang dianggap membentuk standar ideal laki-laki seperti tegar, rasional, tidak emosional, dan mampu menanggung beban tanpa mengeluh. Hal ini dianggap ideal untuk membentuk gambaran maskulinitas.
Mengutip
Science Direct
, teori itu dipandang sebagai perilaku yang menunjukkan keberanian dan kekuatan, termasuk penolakan untuk mengakui kelemahan atau dikalahkan oleh peristiwa yang merugikan.
Seorang anak laki-laki yang menangis mungkin akan ditegur. Remaja yang mencoba bercerita bisa dianggap berlebihan. Hingga akhirnya, sebagai orang dewasa, banyak laki-laki tidak lagi tahu bagaimana cara mengekspresikan perasaannya.
Bukan karena mereka tidak punya emosi, tetapi karena tidak pernah diajarkan cara menghadapinya. Diam sering kali dianggap sebagai bentuk kekuatan. Padahal, dalam banyak kasus, diam hanyalah cara bertahan.
Konsep hegemonic masculinity bukanlah sifat biologis bawaan, melainkan cita-cita yang dibangun secara sosial, dibentuk oleh sejarah hingga budaya.
Akibatnya, laki-laki yang memilih untuk bercerita seringkali dihadapkan pada stigma seperti dianggap lemah, tidak tangguh, atau tidak seperti laki-laki.
Menurut Medwin, anggapan yang menyebut bahwa laki-laki yang bercerita sebagai sosok yang lemah merupakan cara pandang yang keliru.
“Kalau seseorang berpikir bahwa laki-laki yang bercerita itu tanda kelemahan, itu berarti cara pandang yang negatif,” ujarnya.
Sayangnya, hingga saat ini masih banyak pria yang hidup dalam belenggu konsep maskulinitas. Sebuah laporan berjudul ‘
Man Box
‘ yang diluncurkan Equimondo dan Axe menyoroti hal ini.
Penelitian yang dilakukan pada laki-laki usia 18-30 tahun di Amerika Serikat (AS), Inggris, dan meksiko ini mengungkapkan bahwa sebagian besar pria masih merasa harus hidup dalam ‘
man box
‘. Istilah terakhir merujuk pada konstruksi budaya tentang identitas pria.
Norman-norma pada ‘man box’ berpusat pada tujuh pilar. Salah satunya, bicara soal sikap tangguh yang konon harus dimiliki pria.
Simak selengkapnya di halaman berikutnya..
Bercerita adalah kebutuhan dasar manusia
Medwin menegaskan bahwa bercerita adalah bagian dari kebutuhan dasar manusia, bukan sesuatu yang ditentukan oleh gender.
“Setiap manusia punya hak untuk bercerita, tidak melihat gender atau jenis kelamin,” jelasnya.
Laki-laki memiliki kebebasan untuk menentukan kepada siapa mereka ingin membuka diri. Bisa kepada pasangan, sahabat, atau bahkan profesional seperti psikolog.
Namun, stigma bahwa ‘laki-laki tidak boleh lemah’ masih kuat tertanam di masyarakat. Bahkan, dalam situasi tertentu, laki-laki yang terbuka justru dianggap tidak cukup maskulin.
“Kita perlu mengubah stigma bahwa laki-laki kalau cerita itu artinya kelemahan,” kata Medwin.
Selama stigma ini terus dipertahankan, laki-laki akan selalu berada dalam posisi serba salah antara kebutuhan untuk didengar dan tuntutan untuk terlihat kuat.
Tidak heran jika banyak yang akhirnya memilih diam. Bukan karena tidak ingin bercerita, tetapi karena tidak tahu apakah mereka akan diterima.
Diam yang berlangsung lama bisa berubah menjadi beban yang tidak kasat mata. Ia tidak terlihat seperti luka fisik, tetapi dampaknya ada dan nyata.
Laki-laki yang tidak terbiasa mengekspresikan emosi cenderung mengalami kesulitan dalam membangun kedekatan emosional. Mereka mungkin hadir secara fisik, tetapi terasa jauh secara perasaan.
Medwin juga mengingatkan, dalam jangka panjang, kondisi ini juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Perasaan yang terus dipendam bisa berkembang menjadi gangguan cemas, depresi, hingga bunuh diri.
Ironisnya, banyak dari mereka tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Karena sejak awal, mereka tidak pernah diajarkan untuk mengenali emosi itu sendiri.
Bercerita bukan berarti tak maskulin
Mengubah kondisi ini bukan berarti menghapus maskulinitas. Bukan berarti laki-laki harus menjadi sosok yang sepenuhnya berbeda.
“Cara mengubahnya adalah dengan mengubah cara pandang bahwa laki-laki bercerita itu tanda kelemahan, menjadi laki-laki juga punya hak untuk bercerita,” jelas Medwin.
Perubahan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya besar. Ia membuka kemungkinan baru bahwa laki-laki bisa tetap kuat sekaligus jujur terhadap perasaannya.
Semakin banyak laki-laki yang berani berbicara tentang kesehatan mental. Semakin banyak ruang yang membuka percakapan tentang emosi, tanpa stigma dan tanpa label.
Perubahan ini mungkin tidak selalu terlihat besar. Kadang hanya berupa percakapan kecil seorang teman yang mulai jujur, atau seseorang yang akhirnya berkata bahwa ia tidak baik-baik saja.
Karena pada akhirnya, menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa lemah. Menjadi kuat adalah ketika seseorang berani mengakui apa yang ia rasakan dan memilih untuk tidak lagi memikulnya sendirian.
Add
as a preferred
source on Google
Bercerita Kebutuhan Dasar Manusia, Tak Peduli Gender
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: 30 Penumpang Kejar Pesawat hingga Landasan Pacu Usai Ditinggal Terbang
Baca lagi: Bagaimana Cara Indonesia Mengurangi Ketergantungan Impor LPG?
Baca lagi: FOTO: Gulung Brentford, MU Hampir Segel Tiket Liga Champions



