
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Setelah
Jonathan Anderson
mengeluarkan koleksi debut
couture
-nya untuk Dior, kini giliran
Matthieu Blazy
yang untuk gigi bersama
Chanel
. Debut ini telah lama dinanti-nanti.
Blazy menjadi direktur kreatif generasi baru yang bakal ikut menentukan reposisi intelektual tentang apa itu couture bagi industri mode di zaman kiwari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di bawah kubah Grand Palais, Blazy memperkenalkan koleksi couture pertamanya dengan tampilan-tampilan yang terasa ringan, namun sarat perhitungan historis.
Kembalinya Chanel ke Grand Palais bukan kebetulan. Rumah mode ini menjadi patron utama renovasi gedung ini, menyumbang sekitar €25 juta untuk restorasi ruang ikonis tersebut dan berkomitmen sekitar €30 juta untuk program budaya serta artistik selama lima tahun ke depan.
Membuka peragaan dengan setelan kotak khas Chanel, Blazy langsung menyentuh inti warisan rumah mode ini. Namun, alih-alih
tweed
atau
bouclé
klasik, ia memilih
mousseline
sutera ultra-tipis, nyaris transparan.
Rantai khas yang biasanya tersembunyi di kelim jaket kini menjadi elemen visual yang berkilau di bawah cahaya. Ini adalah Chanel dengan elemen-elemen yang mudah dikenali. Namun, oleh Matthieu, elemen-elemen ini dipreteli, direduksi, lalu dirakit ulang.
Pendekatan ini mengingatkan pada semangat Coco Chanel sendiri, yang sejak awal menolak kekakuan mode seperti korset dan rok panjang serta memprioritaskan gerak, kenyamanan, dan kebebasan bergerak tubuh perempuan.
Di sepanjang koleksi ini, Blazy bermain dengan
trompe l’œil
, sebuah bahasa visual yang pernah ia eksplorasi secara radikal di Bottega Veneta dan sebelumnya di Maison Margiela.
Jeans biru pucat yang ternyata terbuat dari
mousseline
sutra transparan, atau little black dress yang dari depan tampak klasik namun terbuka di bagian punggung dengan detail bulu merah di tulang belikat, menunjukkan ketertarikannya pada ilusi dan kejutan.
Teknik di atas terasa segar buat Chanel, rumah mode yang selama era Karl Lagerfeld lebih sering mengandalkan repetisi simbolik, inovasi radikal, dan spektakel referensial.
Tema burung dan alam menjadi benang merah koleksi ini, bukan dalam bentuk literal, melainkan melalui tekstur dan teknik.
Atelier
Lemarié dan Lesage, yang keduanya dimiliki oleh Chanel dibawah naungan Le 19m, bekerja pada level ekstrem. Bulu dipotong dengan presisi dan kompleksitas hingga menyerupai
tweed
, jaket tampak seperti wol padat padahal seluruhnya tersusun dari lapisan bulu, sementara tas
quilted
ikonis Chanel dibuat nyaris transparan.
Dalam
shownote
yang diterima
Golden SamoyedIndonesia.com
, Blazy menyebutnya sebagai ‘kehidupan interior yang diekspos ke luar’, sebuah pernyataan konseptual yang jarang terdengar lugas di Chanel era sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan Virginie Viard, yang cenderung menafsirkan Chanel melalui lensa feminitas lembut dan nostalgia pribadi terhadap Gabrielle Chanel, Blazy terasa lebih analitis dan eksperimental. Viard sering menciptakan koleksi dengan memelihara kontinuitas emosional, yang sekilas tampak ringan dan lebih simpel dari pendahulunya, sementara Blazy memilih membongkar struktur.
Casting
multigenerasi dan dengan beragam warna kulit menjadi pernyataan tersendiri, diperkuat oleh keputusan Blazy meminta setiap model menyelipkan elemen personal seperti inisial, tanggal lahir, atau sepenggal puisi, yang kemudian disulam oleh Lesage di bagian dalam busana atau di saku tas.
Couture
, melalui gestur ini, bukan hanya menjadi kanvas keterampilan teknis, tetapi juga wadah narasi personal.
Pendekatan ini selaras dengan filosofi awal
haute couture
sebagai pakaian yang diciptakan untuk satu individu tertentu, dan bukannya objek pamer.
Coco Chanel pernah mengatakan bahwa kemewahan harus nyaman. Blazy memperbarui prinsip itu dengan menegaskan bahwa kemewahan juga harus bermakna secara emosional.
Pernyataannya bahwa
couture
adalah ‘jiwa Chanel’ terdengar klise, namun koleksi ini memberi bobot nyata pada klaim tersebut.
Meski demikian, ada momen ketika gambaran ala dunia dongeng seperti jamur-jamur raksasa yang dibangun sebagai
set venue
, atau burung animasi yang ditampilkan di
teaser
, nyaris tergelincir ke wilayah yang terlalu ‘manis’ untuk rumah mode yang dibangun di atas semangat modernitas radikal. Coco Chanel terkenal alergi terhadap hal-hal ‘
cutesy
‘, namun Blazy berhasil menghindari jebakan itu dengan menjaga kedewasaan koleksi ini melalui siluet dan konstruksi.
Debut ini juga menandai arah baru Chanel pasca-Lagerfeld, sebuah era yang selama tiga dekade sangat bergantung pada karisma satu figur.
Blazy, di usia 41 tahun, memilih jalan berbeda. Ia memilih tidak mendominasi, paling tidak untuk karya couture pertamanya di Chanel. Alih-alih mendominasi, ia memilih untuk lebih menyelami esensi dari rumah mode ini.
Hasilnya adalah koleksi
couture
yang terasa hidup. Meskipun berpijak pada nilai-nilai dasar yang dibangun Chanel dan Karl, namun tidak terperangkap di dalamnya.
Setelah sepeninggal Karl, Chanel memang menjadi salah satu
powerhouse
secara finansial, namun kerap kali menjadi bahan kritik dan bukan lagi penentu atau bahkan pendikte tren.
Kali ini, dengan pelan tapi pasti Matthieu membawa Chanel terbang kembali.
(asr/asr)
[Gambas:Video Golden Samoyed]
Baca lagi: FOTO: Eksplorasi Couture ala Jonathan Anderson Bareng Dior
Baca lagi: Awas, 7 Makanan Ini Tidak Boleh Dipanaskan Kembali, Bisa Jadi Racun
Baca lagi: Jonathan Anderson ‘Menyelamatkan’ Couture Lewat Koleksi Teranyar Dior



