Cerita Para ‘Dukun Modern’ dan Bisikan Sunyi dari Kartu Tarot

Jakarta, Golden Samoyed Indonesia

Di sebuah kafe kecil di sudut kota

Jakarta

, tak ada bau

kemenyan

atau suara mantra yang menggema. Hanya denting sendok yang beradu dengan gelas kopi, percakapan pelan, dan setumpuk kartu bergambar simbol-simbol yang tampak seperti potongan cerita kuno.

Di meja itu, Jemima duduk santai. Ia mengocok kartu tarot seperti seseorang yang sedang memainkan permainan biasa. Namun bagi orang yang duduk di hadapannya, momen itu terasa lebih dari sekadar permainan. Ada harapan yang diselipkan diam-diam untuk menemukan jawaban.

“Menurut saya, hidup sekarang penuh ketidakpastian. Banyak orang bingung, dan mereka butuh sesuatu buat memvalidasi kebingungan itu,” ujar Jemima (30), tarot reader asal Bekasi saat berbincang dengan

Golden SamoyedIndonesia.com

beberapa waktu lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia tertawa kecil ketika menyebut dirinya bagian dari ‘dukun modern’. Tidak ada jubah panjang atau ritual rumit. Hanya kartu, percakapan, dan kepekaan membaca situasi.

Bagi Jemima, tarot bukan alat untuk meramal masa depan. Ia justru menolak anggapan itu.

“Tarot bukan ramalan ya. Ini lebih kayak medium buat introspeksi. Orang-orang sebenarnya sudah punya jawabannya, cuma butuh dipancing saja,” katanya.

Semua bermula dari iseng. Dari sesi-sesi santai bersama teman, dari obrolan panjang yang kadang berujung pada pertanyaan-pertanyaan besar tentang hidup.

Ia pun mengaku belum sepenuhnya menekuni tarot secara profesional. Namun, justru di situlah letak kejujurannya, tarot baginya bukan profesi utama, melainkan ruang bermain yang perlahan berubah menjadi ruang memahami.

Ia menyadari, membaca kartu untuk diri sendiri terasa jauh lebih mudah.

“Kalau untuk diri sendiri, kita sudah tahu isi kepala kita. Tapi kalau untuk orang lain, apalagi yang belum dekat, harus ngobrol dulu. Digali dulu keresahannya,” ujarnya.

Tarot, dalam praktiknya, bukan sekadar menarik kartu dan membaca makna simbol. Ia adalah percakapan yang perlahan membuka lapisan-lapisan emosi manusia.

Di Wonogiri, pengalaman serupa dirasakan Elise (34) yang sudah menekuni pembacaan tarot sejak beberapa tahun belakangan. Ia menyaksikan sendiri bagaimana tarot perlahan berubah dari praktik yang dulu dianggap pinggiran menjadi sesuatu yang dicari banyak orang.

“Orang sekarang butuh pegangan. Ketika semuanya terasa tidak pasti, bahkan petunjuk kecil pun bisa bikin tenang,” katanya.

Namun ketenangan itu tidak datang dari jawaban pasti, melainkan dari proses memahami.

Elise sendiri membatasi dirinya hanya menerima maksimal dua sesi dalam sehari. Bukan tanpa alasan. Baginya, setiap sesi membutuhkan energi, empati, dan fokus yang tak sedikit.

“Ini bukan soal cepat-cepatan. Setiap orang datang dengan ceritanya masing-masing,” ujarnya.

Cinta, cinta, dan cinta

Dari sekian banyak

cerita

yang Elise dengar, satu tema hampir selalu muncul, percintaan.

“Aneh ya, mau mulai dari topik apa pun, ujung-ujungnya pasti ke love life,” katanya sambil tersenyum.

Cinta, rupanya, tetap menjadi misteri paling abadi, bahkan di era modern yang serba rasional. Namun, ada kalanya pertanyaan yang datang melampaui nalar.

Elise pernah menghadapi klien yang bertanya apakah orang yang dekat dengannya menggunakan ‘sesuatu’, semacam energi atau pengaruh tak kasatmata yang membuat hubungan terasa begitu cepat dan intens.

“Awalnya reading-nya netral. Tapi akhirnya pertanyaan itu jadi ikut dipertimbangkan sebagai bagian dari cerita,” ujarnya.

Di titik itu, batas antara psikologi, intuisi, dan kepercayaan personal menjadi tipis. Tarot tidak memberi jawaban hitam-putih. Ia hanya membuka kemungkinan.

Di Jakarta, cerita tentang tarot mengambil bentuk yang berbeda lewat Panji (26). Ia mengenal tarot bukan dari pencarian spiritual, melainkan dari rasa penasaran khas anak muda.

Saat masih kuliah, Panji tertarik pada ilustrasi kartu tarot yang menurutnya artistik dan penuh simbol. Ia mulai mempelajari arti kartu satu per satu, awalnya untuk dirinya sendiri. Namun lama-kelamaan, teman-temannya mulai datang, bukan untuk sekadar mencoba, tetapi untuk bercerita.

“Dulu sering jadi tempat curhat di tongkrongan. Dari situ malah jadi keterusan,” katanya.

Panji tidak pernah secara sadar memutuskan menjadi tarot reader. Semuanya mengalir. Dari obrolan ringan, menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan, menjadi peran.

Kini, ia melihat tarot sebagai bahasa alternatif, cara membaca emosi dan dinamika hidup yang kadang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa.

“Orang sering kira tarot itu buat tahu masa depan. Padahal lebih ke refleksi. Kartu itu cermin, bukan peta,” ujarnya.

Ia menyadari, generasi muda saat ini tidak lagi mencari jawaban mutlak. Mereka lebih tertarik pada proses memahami diri, mencari makna, dan berdamai dengan ketidakpastian.

Fenomena tarot, memang bukan sekadar tren. Ia adalah cermin dari kegelisahan zaman.

Di tengah dunia yang serba cepat, di mana segala sesuatu dituntut pasti dan terukur, manusia justru semakin akrab dengan rasa ragu. Karier yang tak selalu linear, hubungan yang tak selalu jelas arah, hingga masa depan yang terasa kabur.

Di ruang-ruang itulah tarot hadir. Bukan sebagai jawaban, melainkan sebagai teman berdialog.

[Gambas:Photo Golden Samoyed]

Para ‘dukun modern’ ini tidak menjanjikan kepastian. Mereka tidak mengklaim mampu mengubah takdir. Yang mereka lakukan jauh lebih sederhana dan mungkin justru lebih sulit, yaitu mendengarkan.

Di balik kartu-kartu bergambar itu, yang sebenarnya sedang dibaca bukanlah masa depan, melainkan diri seseorang di masa kini.

Mungkin, di situlah letak daya tariknya. Bahwa di dunia yang bising, masih ada ruang kecil untuk berhenti, bertanya, dan mencoba memahami tanpa dihakimi.

Add

as a preferred

source on Google

Cerita Para ‘Dukun Modern’ dan Bisikan Sunyi dari Kartu Tarot

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: May Day 2026, 6.678 Personel Gabungan Amankan Demo di DPR

Baca lagi: Massa Bakar Pos Polisi di Tamansari Bandung

Baca lagi: Komdigi Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6GHz, Perluas Internet Cepat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: