
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Membesarkan
anak
yang tak cuma cerdas, tapi juga baik hati dan memiliki rasa welas asih jadi prioritas banyak
orang tua
, utamanya saat dunia kian terasa mengancam.
Psikolog anak di Sunset Terrace Family Health Center NYU Langone, Joseph Laino menyetujui hal tersebut. Menurutnya, itu adalah prioritas yang layak diinvestasikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Keterampilan lunak seperti empati, kasih sayang, dan kemurahan hati tidak saling bertentangan dengan keterampilan akademis. Bahkan, ketiganya saling memperkuat,” ujar Laino, melansir
Parents
.
Mengapa mengajarkan welas asih penting untuk anak?
Saat anak belajar mempertimbangkan perspektif orang lain atau berada di tengah konflik tapi dengan empati, mereka tidak hanya menjadi orang yang baik, tapi juga mengembangkan keterampilan penting untuk berkembang di setiap aspek kehidupan.
“Jika mereka lebih kooperatif dengan guru dan teman sebaya, itu dapat membantu mereka mendapatkan hasil maksimal dari pendidikan dan memiliki pengalaman yang lebih memuaskan,” ujar Laino.
Keterampilan ini juga menumbuhkan rasa percaya diri. Memperhatikan orang lain, lanjut Laino, membuat anak merasa lebih tenang dan mampu.
“Memberi, berbuat baik, dan peduli pada orang lain meningkatkan rasa percaya diri dan dapat memberikan rasa tujuan hidup,” tambah Laino.
Kebiasaan sehari-hari agar anak tumbuh menjadi pribadi yang welas asih
Membesarkan anak yang penuh empati tidak pernah dirasa sepenting ini. Dunia digital saat ini, lanjut Laino, membawa risiko nyata, yakni terputusnya hubungan dan isolasi.
Empati dan kasih sayang adalah alat yang dibutuhkan anak dalam menghadapi masyarakat yang semakin kompleks. Dan semuanya, bisa berawal dari rumah.
Berikut beberapa kebiasaan di rumah yang bisa diterapkan orang tua agar anak tubuh menjadi pribadi yang empatik dan welas asih.
1. Tunjukkan kebaikan sejak dini karena bayi memperhatikan
Rasa welas asih dimulai jauh lebih awal daripada yang dipikirkan kebanyakan orang tua. Tak ada kata terlalu dini untuk mulai membantu anak mengembangkan
soft skill
ini.
Sebelum anak bisa berbicara, lanjut Laino, mereka sudah bisa menyerap isyarat emosional. Hal ini bisa dilihat dari kelembutan suara, ekspresi wajah, dan cara orang tua bereaksi saat orang lain sedang kesal.
Pengamatan awal tersebut menjadi cetak biru internal anak tentang bagaimana orang memperlakukan satu sama lain.
2. Beri anak cerita sesuai usia
Cerita adalah salah satu alat paling ampuh untuk membangun empati. Anak sedang mendengarkan cerita sebelum tidur. Secara alami, narasi memungkinkan mereka untuk membayangkan kehidupan melalui mata orang lain.
Pilih buku cerita dengan cermat. Buku-buku tentang pengungsian, migrasi, atau konflik dapat secara perlahan membuka pandangan mereka tentang dunia sesuai dengan kondisi saat ini. Bagi anak, buku bergambar tentang pengungsi membantu mereka memvisualisasikan ketahanan, keluarga, dan kelangsungan hidup dengan cara yang tidak menakutkan atau melemahkan semangat.
Padukan cerita dengan obrolan bersama si kecil. Bangun rasa empati melalui pertanyaan bagaimana perasaan mereka terhadap cerita tersebut.
Simak selengkapnya di halaman berikutnya..
3. Ceritakan masalah dunia tanpa membuat mereka takut
Anak bisa menyerap sedikit informasi tentang konflik, kekerasan, dan bencana melalui banyak medium. Baik itu teman sekelas, televisi, atau percakapan orang dewasa yang tak sengaja terdengar.
Alih-alih membiarkan anak mengisi kekosongan informasi dengan rasa takut, orang tua didorong berperan aktif membantu mereka memahahi peristiwa dunia.
“Anak-anak sering kali memahami lebih banyak daripada yang kita sadari. Ambil inisiatif dan jelaskan dengan cara sesuai usia soal apa yang terjadi di tempat-tempat seperti Ukraina, Gaza, dan zona krisis lainnya,” ujar tim komunikasi UNHCR Andrea Mucino-Sanchez.
Berikan penjelasan singkat dan berfokus pada hal-hal yang paling penting seperti keselamatan, keadilan, dan relawan yang bekerja untuk menolong serta melindungi orang-orang.
“Misalnya, ‘beberapa keluarga terpaksa meninggalkan rumah karena tidak aman, tapi orang-orang di seluruh dunia membantu mereka’,” tambah Mucino-Sanchez mencontohkan.
Saat mendapatkan informasi tersebut, anak akan merasa lebih aman dan terhubung dengan pengalaman dunia.
4. Akui keistimewaan yang dimiliki anak
Buat anak memahami ketidaksetaraan. Sampaikan bahwa dia termasuk anak yang beruntung karena bisa tumbuh dengan damai.
Hal tersebut bukan berarti membuat mereka merasa bersalah, tapi membantu mereka memperhatikan kondisi yang tidak semua anak bisa alami. Harapannya, anak bisa menggunakan kesadaran akan ‘keistimewaan’ yang dimilikinya untuk menumbuhkan rasa syukur.
“Bantu anak memahami bahwa tumbuh dalam kedamaian dan keamanan adalah sesuatu yang tidak dimiliki banyak anak. Dorong mereka untuk merasa bersyukur,” ujar Mucino-Sanchez.
5. Ciptakan ruang percakapan yang rutin
[Gambas:Photo Golden Samoyed]
Empati tidak dibangun melalui tindakan besar, melainkan tumbuh dalam ritme sederhana kehidupan keluarga sehari-hari.
“Prioritaskan waktu bersama, sepert makan malam keluarga, untuk pelan-pelan membicarakan apa yang terjadi di dunia,” ujar Mucino-Sanchez.
Rutinitas yang konsisten membantu anak merasa aman dan nyaman. Beri mereka kesempatan untuk mengajukan pertanyaan besar dan kekhawatiran kecil. Anak mungkin saja bertanya mengapa seseorang di berita menangis.
Saat percakapan seperti itu terjadi secara teratur, anak akan belajar bahwa pikiran mereka penting. Mereka juga akan sadar bahwa orang tua adalah penuntun yang aman saat dunia terasa membingungkan.
6. Dorong anak untuk bertindak
Perbuatan baik memperkuat rasa keterhubungan anak.
“Memberi, berbuat baik, dan peduli pada orang lain meningkatkan rasa percaya diri dan dapat memberi anak rasa tujuan hidup,” ujar Laino.
Coba ajak anak untuk membuat kartu ucapan buat tetangga yang sedang kesulitan. Ajak juga anak untuk memilih mainan, buku, atau pakaian untuk disumbangkan.
Orang tua punya peran penting dalam membimbing anak di tengah dunia yang semakin gonjang-ganjing. Cara-cara di atas bisa membantu menumbuhkan rasa welas asih anak terhadap sesama.
Add
as a preferred
source on Google
Cara Menumbuhkan Rasa Welas Asih Anak di Tengah Dunia yang Kian Rapuh
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Meghan Markle Merasa Dipermalukan Soal Harry Kunjungan ke Inggris
Baca lagi: Final Piala Dunia Spanyol vs Argentina, Trump Klaim AS Jadi Juaranya
Baca lagi: Pencemaran Air Sungai Cisadane Tangerang, Satu Perusahaan Diusut




15 Responses
Pembahasan yang rapi dan to the point. Kemarin saya kebetulan menyimpan tautan https://vital-labs-cbd-gummies-scam-exposed.webflow.io/ yang juga mengupas bahasan sejenis.
Penjelasan yang rapi banget. Kalau temen-temen pengen eksplor sudut pandang atau info lain buat pelengkap, materi di https://first-formula-keto-gummie-usa.company.site/SAMPLE-Yellow-Solid-Jumpsuit-p553269510 sangat layak disimak.
Sebuah dorongan moral yang sangat elegan dari seorang pemikir yang visioner, memberikan dampak perubahan yang sangat positif bagi pembaca setianya. https://www.dibiz.com/adkenketoacvgummiesscam
Penulis berhasil memantik pemikiran baru dalam diri saya. Artikel ini kaya akan ilmu sosiologi praktis yang jika kita terapkan bersama-sama di lingkungan sosial, dampaknya pasti akan luar biasa. https://great-results-keto-acv-gummies-za-offic.webflow.io/
Penulis berhasil memberikan evaluasi yang sangat adil terhadap kebiasaan manusia modern. Banyak ilmu baru di sini yang membuat saya langsung merombak total jadwal harian saya demi hasil yang lebih baik. https://www.ivoox.com/podcast-ntx-keto-acv-gummies_sq_f12018936_1.html
Membaca tulisan ini seperti melihat peta harta karun. Setiap poin ilmunya adalah kompas yang menuntun saya keluar dari labirin masalah sehari-hari dengan solusi yang sangat cerdas. https://full-body-cbd-gummies-87dd45.webflow.io/
Tulisan ini seperti alarm otomatis yang ramah. Tidak mengejutkan, tapi perlahan membangunkan logika saya untuk sadar dan menerapkan kebiasaan hidup yang lebih teratur mulai hari ini. https://pdfhost.io/v/yXsUes0n9_Vital_Ketogenic_Keto_Gummies_Ingredients_That_Work_or_Fake_Supplement
Tulisan ini memberikan arah baru bagi saya yang sedang kehilangan arah rutinitas. Terima kasih atas transfer ilmunya yang begitu praktis dan mudah dieksekusi! https://secure2.websrvcs.com/system/media/play.asp?id=30216&key=101DBE0C-9A23-4085-AED9-FB67A599F242
Artikel ini memberikan perspektif baru tentang arti leadership yang membumi. Ilmunya fokus pada tindakan-tindakan kecil harian yang bisa menularkan energi positif ke seluruh tim. https://secure2.websrvcs.com/System/Media/Play.asp?id=30216&key=9FEB69D8-A7B4-4256-BA06-E456E0EC9C62
Rapi banget susunan artikelnya, bikin pembaca jadi lebih gampang paham poin utamanya. Top cer min! Sebagai pelengkap informasi, ada bahasan seru juga yang bisa dilihat di https://www.eventcreate.com/e/sonofit-drops
Artikel ini mengubah cara saya mengelola catatan dan pengetahuan harian. Ilmunya sangat praktis untuk membangun sistem pemikiran pribadi yang lebih terorganisir. https://secure2.websrvcs.com/system/media/play.asp?id=30216&key=17CFCFFF-56AA-4B66-BB82-EECCA6871A3A
Sebuah ulasan yang sangat manusiawi tentang ritme kerja. Penulis membagikan langkah terapan untuk mengetahui kapan harus memicu ide dan kapan harus benar-benar istirahat. https://eridan.websrvcs.com/system/media/play.asp?id=30216&key=BA501183-B123-4FEA-B3B1-A43346F39666
Ulasan yang sangat berbobot mengenai arsitektur lingkungan kerja yang tenang. Langkah-langkah mikronya sangat efektif untuk meminimalkan gangguan mental harian. https://eridan.websrvcs.com/system/media/play.asp?id=30216&key=0F06E387-0263-4960-8CBC-21527DF7A7F9
Akhirnya nemu tulisan yang mengupas tuntas inti masalahnya secara mendalam. Keren admin! Bagi yang ingin mencari alternatif bacaan sejenis, tautan di https://www.siteprice.org/competitors/theupfront.com ini layak dicoba.
Bahasannya sangat berbobot dan terstruktur dengan baik dari awal sampai akhir. Sukses terus untuk blognya! Kebetulan kemarin sempat baca ulasan sejenis yang detail di https://news.uga.edu/students-get-self-guided-education-through-magazine-publishing/