
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Kalau mendengar kata
museum
, yang terbayang mungkin ruang sunyi berisi benda-benda tua di balik kaca. Tapi, kesan itu perlahan menghilang begitu kaki melangkah ke Museum Tekstil Jakarta.
Museum yang berdiri sejak 1976 ini menempati sebuah bangunan bersejarah yang usianya bahkan jauh lebih tua. Dulunya, bangunan tersebut merupakan sebuah
landhuis
atau vila milik warga Prancis di Batavia pada awal abad ke-19, sebelum beberapa kali berganti kepemilikan dan akhirnya diresmikan menjadi Museum Tekstil pada 28 Juni 1976.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lokasinya mudah dijangkau, jaraknya hanya sekitar 500 meter atau sekitar tujuh menit berjalan kaki dari Stasiun Tanah Abang.
Dengan tiket masuk Rp10 ribu untuk dewasa, kamu bisa menghabiskan waktu berjam-jam menikmati koleksi wastra Nusantara, belajar membatik, hingga sekadar bersantai membaca buku.
Suasana teduh langsung terasa begitu memasuki kompleks museum. Bangunan-bangunan tua mengelilingi halaman yang dipenuhi pepohonan. Ada Taman Pewarna Alam, Pendopo Batik, koperasi, hingga Galeri Batik yang bisa dijelajahi satu per satu.
Sebelum melangkah ke gedung pameran, perjalanan sebaiknya diawali dari Pendopo Batik. Di sini, pengunjung bisa mencoba membatik secara langsung.
Dengan membayar Rp50 ribu, pengunjung akan mendapat selembar kain, bisa memilih yang sudah berpola atau menggambar motif sendiri. Lengkap pula dengan canting, malam, serta pendamping yang akan mengajarkan proses membatik dari awal. Tangan yang semula masih canggung pelan-pelan mulai terbiasa mengikuti garis-garis pola dengan lilin panas.
Setelah selesai mencanting, kain diberi warna lalu dijemur hingga kering. Selagi menunggu kain mengering, waktunya berkeliling museum.
Berkeliling Indonesia lewat selembar kain
Gedung pamer utama langsung menyambut dengan dua koleksi yang mencuri perhatian. Salah satunya Kain Panjang Bulu Hayam dari Garut, Jawa Barat. Batik tulis yang dibuat pada 1950-an itu menampilkan lengkungan-lengkungan menyerupai bulu ayam dan sisik ikan dengan warna khas Garut: krem, cokelat, dan biru. Motif tersebut juga dikenal sebagai Sapu Jagad.
Persis di sampingnya, berdiri Kain Panjang Gajah Birawa dari Surakarta, koleksi hibah keluarga Presiden Soeharto. Kain karya R.A. Soemoharjomo, ibunda Tien Soeharto, itu menampilkan gajah, kijang, hingga burung yang beterbangan di antara lembah. Dalam tradisi Jawa, gajah melambangkan kegagahan sekaligus menjadi simbol kebesaran para bangsawan.
Pandangan kemudian tertuju pada Umbul-Umbul Caruban Nagari (Royal Banner) dari Keraton Cirebon. Kain bersejarah yang menjadi salah satu koleksi awal Museum Tekstil ini merupakan sumbangan Gusti Kanjeng Putri Mangkunegoro. Ragam hias kaligrafi bernuansa Islam yang memenuhi permukaannya membuat umbul-umbul ini tampil berbeda dari koleksi lain di sekitarnya.
Pesona museum ini sesungguhnya bukan hanya terletak pada koleksi-koleksi utamanya. Setiap langkah terasa seperti sedang diajak berkeliling Indonesia lewat selembar demi selembar kain.
Satu ruangan menghadirkan dodot dari Yogyakarta, tapis Lampung, kain panjang Taman Arum dari Cirebon, hingga tenun dari Flores dan Sulawesi Selatan.
Ruangan berikutnya menyimpan beragam wastra ritual berupa songket, selendang, sarung, hingga kain-kain yang digunakan dalam berbagai upacara adat.
Langkah selanjutnya membawa pengunjung bertemu Kain Panjang Jlamprang, tirai merah dari Lampung yang langsung menyambut dari kejauhan, hingga kampuh, kain impor dari India yang dahulu dikenal masyarakat sebagai sembagi.
Masih ada lagi Parang Rusak dari Surakarta, sarung Buketan Pekalongan dengan warna-warna cerah yang terasa akrab dengan motif busana masa kini, hingga Parang Baris dengan nuansa klasik yang khas.
Semakin jauh berjalan, warna-warna bumi mulai mendominasi. Udan Liris, Palepai dari Lampung, tenun Flores, hingga kain dari Maluku memenuhi ruang berikutnya.
Kalau ingin menikmati museum ini, rasanya tak perlu terburu-buru membaca setiap label koleksi. Justru keseruannya muncul ketika mencoba menebak asal setiap kain hanya dari corak dan warnanya.
”
Motif parang begini pasti dari Jawa tengah.
”
”
Yang garis-garis ini jangan-jangan ulos dari Sumatera.
”
Kadang tebakan itu benar, kadang juga meleset jauh. Justru di situlah letak serunya.
Koleksinya begitu banyak hingga museum ini tidak disusun seperti peta Indonesia dari barat ke timur. Kain dari Jawa bisa berdampingan dengan Flores, lalu disusul Lampung atau Maluku di ruangan berikutnya.
Mata pun terus diajak berpindah dari satu motif ke motif lain tanpa benar-benar tahu kejutan apa yang menunggu di sudut berikutnya.
Nuansa kembali berubah ketika memasuki area paling belakang. Deretan ulos dari Sumatera Utara memenuhi ruangan. Ada Ulos Sadum, Ragidup, Sibolang Marheter, Ulos Bintang Maratur, Tumtuman, hingga Uis Bebuluh Padang Rusak.
Perjalanan belum selesai.
Simak ulasan selengkapnya di halaman berikutnya..
Museum juga memiliki BI Corner, ruang baca untuk beristirahat sejenak. Rak-raknya dipenuhi buku, jurnal, katalog, hingga majalah tentang tekstil Indonesia.
Sofa, layar tontonan, dan area bermain anak membuat sudut ini terasa seperti ruang keluarga kecil di tengah museum.
Begitu selesai berkeliling, jangan lupa kembali ke Pendopo Batik untuk mengambil kain yang tadi dijemur.
Masuk ke lorong batik
Eh
, ternyata masih ada satu tempat lagi yang sayang dilewatkan.
Persis di depan area pendopo berdiri Galeri Batik, gedung yang dibuka pada 2010 untuk memperingati pengakuan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Galeri ini menyimpan lebih dari seratus koleksi batik milik Yayasan Batik Indonesia yang berasal dari berbagai penjuru Nusantara.
Berbeda dengan ruang pamer utama, galeri ini terasa seperti lorong panjang yang dipenuhi kain di kanan dan kiri. Batik-batik disusun berbaris menyerupai labirin kecil sehingga pengunjung perlahan berjalan sambil menikmati setiap detail motifnya.
Koleksinya pun dikelompokkan berdasarkan daerah produksi, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, hingga Papua.
Di sela-sela koleksi, pengunjung juga bisa melihat peralatan membatik, informasi tentang proses pembuatan batik, penggunaan pewarna alami, sampai bagaimana batik diaplikasikan menjadi berbagai elemen interior seperti karpet, bantal, dan pelapis furnitur.
Kalau benar-benar ingin membaca setiap label, mengenali asal setiap motif, lalu mengamati detailnya satu per satu, rasanya satu hari pun belum tentu cukup.
Mungkin, justru itulah yang membuat Museum Tekstil terasa menyenangkan.
Tak ada cara yang benar atau salah untuk menikmatinya. Bisa datang untuk belajar membatik, berburu foto, mengenal wastra Nusantara, atau sekadar berjalan sambil sesekali menebak.
Sebelum pulang, jangan lupa kembali lagi ke bilik tiket di dekat pintu keluar, di sana tersedia stempel untuk museum passport kamu.
Sempatkan pula mampir ke koperasi museum. Rak-raknya dipenuhi beragam suvenir bernuansa batik, mulai dari gantungan kunci, strap ponsel, tas, kain panjang, lukisan, hingga pakaian.
Add
as a preferred
source on Google
Museum Tekstil dan Ajakan Berkeliling Indonesia Lewat Lembaran Kain
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Cara Siapkan Investasi untuk Dana Pendidikan Anak Sejak Dini
Baca lagi: Trump: Iran Lebih Serius dalam Berunding, Tapi Kesepakatan Masih Jauh
Baca lagi: Beda Klaim Ruben Onsu dan Sarwendah soal Rp11 M untuk Renov Rumah




3 Responses
untung88 askes link slot gacor hari ini
Mantap ulasannya! Informatif sekali dan langsung to the point tanpa bertele-tele. Sekadar berbagi referensi pelengkap, buat yang mau mendalami materi serupa bisa mampir ke https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320114732_htm
Mantap ulasannya! Informatif sekali dan langsung to the point tanpa bertele-tele. Sekadar berbagi referensi pelengkap, buat yang mau mendalami materi serupa bisa mampir ke https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297194078_htm