
Jakarta, Golden Samoyed Indonesia
—
Kamu merasa terlalu boros, tetapi tetap tidak bisa mengerem pengeluaran? Mungkin ini saatnya untuk belajar
hemat uang
melalui dengan cara
slow shopping
.
Namun
slow shopping
itu sebenarnya apa,
sih
? Kalau kamu pernah mendengar
mindful eating
, konsep ini tidak berbeda jauh. Metode ini mengajarkanmu untuk lebih
mindful
saat berbelanja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu slow shopping
Menurut ahli keuangan dan
budgeting
konsumen, Andrea Woroch,
slow shopping
lebih mendorong seseorang untuk lebih berhati-hati dalam belanja. Fokusnya, yakni pada apa yang dibeli, mengapa membelinya, dan berapa banyak yang dihabiskan untuk pembelian tersebut.
“Ketimbang langsung membeli sesuatu secara impulsif begitu keinginan atau hasrat muncul, slow shopping mendorong Anda untuk memikirkan pembelian tersebut agar dapat membuat keputusan pembelian terbaik sesuai anggaran Anda, memberi Anda waktu untuk mengevaluasi kebutuhan, biaya, dan nilai,” tutur Woroch, seperti dikutip dari
Huffpost
.
Saat melakukan
slow shopping
, kamu bakal lebih memperhatikan kualitas barang ketimbang kuantitasnya, tentu sangat bertolak belakang dari belanja impulsif.
Sayangnya, belanja impulsif menjadi kebiasaan yang sulit untuk diperbaiki. Berdasarkan survei yang dilakukan Bread Financial pada 2024, 62 persen konsumen Gen Z mengaku menghabiskan uang untuk mengikuti tren yang mereka pantau secara
online
. Adapun 79 persen belanja impulsif mereka dipengaruhi konten media sosial.
“Berbelanja secara perlahan dapat membantu Anda menghentikan kebiasaan buruk dalam mengelola uang ini dan membantu Anda menghindari FOMO (
fear of missing out
),” kata Woroch. Namun bagaimana caranya?
Belajar hemat uang dengan metode slow shopping
Crystal, kreator konten di akun TikTok @slowbuyclub, memperkenalkan
framework
lima pertanyaan yang ia gunakan sebelum melakukan pembelian apa pun. Cara ini bisa mengurangi pengeluaran impulsifnya hingga 50-70 persen.
Mengutip dari
The Everygirl
, berikut ini perincian lima pertanyaan tersebut yang bisa kamu terapkan kepada diri sendiri sebelum
check out
barang dari keranjang
online shop
.
1. Seberapa besar kemungkinan kamu akan membeli produk tersebut?
Di tahap pertama, kamu harus menentukan skor pembelian. Buat skala 1 sampai 10 untuk menilai apakah kamu memang membutuhkan produk tersebut.
Coba pikirkan seberapa besar keinginanmu untuk memilikinya? Kemudian pertimbangkan kondisi realistis. Misalnya, apakah bujetmu cukup untuk membelinya? Apakah sesuai dengan gaya hidupmu? Apakah produk ini bisa berguna dalam jangka panjang? Dari berbagai pertanyaan ini, kamu bisa menentukan skor pembelian.
2. Seberapa besar rasa kecewamu jika produk tersebut habis terjual?
Selanjutnya, buat skor kekecewaan dengan skala 1 sampai 3. Nilai 1, artinya kamu tidak kecewa, nilai 2 agak kecewa, dan nilai 3 sangat kecewa.
Skor ini untuk mengukur seberapa kuat reaksimu jika stok produk yang kamu inginkan habis. Misalnya, kamu tidak kecewa jika kaus kaki di keranjang belanja marketplace, tetapi sangat sedih jika kehabisan jaket kulit yang sangat kamu inginkan.
3. Seberapa yakin kamu dengan skor pembelian dan kekecewaan tersebut?
Masih membuat skor, kali ini kamu membuat skor keyakinan. Di tahap ini kamu perlu mengevaluasi kembali dua jawaban pertama di atas. Beri nilai 0 jika tidak yakin, dan 1 jika yakin.
Kemudian kalikan ketiga skor tersebut (skor pembelian x skor kekecewaan x skor keyakinan) untuk mendapatkan totalnya.
Jika total angka mencapai 0-16, artinya kamu tidak perlu membeli produk tersebut. Namun jika skornya di atas 25, kamu bisa membelinya. Lalu bagaimana dengan skor di antara 16 dan 25? Lanjut ke pertanyaan berikutnya.
4. Produk ini sebenarnya untuk siapa?
Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah produk ini memang kamu inginkan untuk dirimu sendiri? Jangan-jangan, kamu membelinya karena FOMO atau pengaruh orang lain, tetapi sebenarnya tidak sesuai dengan kepribadianmu.
Dengan mengetahui motivasi emosional di balik pembelian produk, bisa mengungkapkan apakah pembelian tersebut bisa menambah value di hidupmu.
5. Tindakan SMART apa yang bisa kamu ambil untuk memenuhi keinginan yang sama?
SMART merupakan kerangka kerja yang terdiri dari
specific
(spesifik),
measurable
(terukur),
attainable
(dapat dicapai),
relevant
(relevan), dan
time-bound
(terbatas waktu).
Cara terakhir ini bisa menantangmu untuk mengarahkan kembali kecenderungan impulsif kamu dan bertindak cerdas. Misalnya, saat kamu ingin membeli baju baru, coba buka kembali lemari, lalu padu padankan pakaian yang masih ada.
Jika kamu bisa mendapatkan tampilan baru dari padu-padan tersebut, kamu bakal berubah pikiran tentang membeli baju baru.
Itu dia metode
slow shopping
yang bisa bikin kamu belajar hemat uang dan tidak belanja impulsif.
Mungkin efeknya tidak akan dapat langsung kamu rasakan, tetapi dengan konsisten menerapkan metode ini, kamu bisa menekan hasrat ingin belanja yang tak perlu.
Belajar Hemat Uang Melalui Metode Slow Shopping, Ini 5 Caranya
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: FOTO: Arsenal Perkasa Lumat Chelsea di Stamford Bridge
Baca lagi: Ketua Banggar DPR Ingatkan Merchant Sanksi Penolakan Pembayaran Tunai
Baca lagi: AS Tarik Pasukan dari Pangkalan Timur Tengah, Siaga Serangan Iran?



