3 Pola Asuh yang Terlihat Sayang, tapi Bikin Anak Sulit Mandiri

Daftar Isi

1. Terlalu mengontrol, bukan membimbing

2. Mudah terpancing emosi

3. Terlalu mengejar kepatuhan sesaat

Jakarta, Golden Samoyed Indonesia

Setiap

orang tua

tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Demi melindungi, banyak

ayah

dan ibu rela melakukan apa saja, mulai dari membantu menyelesaikan tugas, mengingatkan setiap hal kecil, hingga menghindarkan

anak

dari rasa kecewa.

Namun, niat baik ternyata tidak selalu menghasilkan dampak yang baik. Tanpa disadari, sikap yang terlalu melindungi atau terlalu mengatur justru bisa menghambat anak belajar mandiri.

Pelatih pengasuhan anak sekaligus ibu dari empat anak, Camilla McGill, mengatakan hampir semua orang tua pernah melakukan kesalahan dalam mengasuh. Menurutnya, hal itu bukan karena mereka tidak menyayangi anak, melainkan karena rasa cinta yang begitu besar dan keinginan agar anak selalu baik-baik saja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut tiga kesalahan pola asuh yang paling sering dilakukan orang tua dan cara mengubahnya melansir

My Parenting Solutions

:

1. Terlalu mengontrol, bukan membimbing

Banyak orang tua merasa harus mengendalikan hampir semua hal yang dilakukan anak. Mulai dari cara berpakaian, mengerjakan pekerjaan rumah, hingga bermain, semuanya ingin diatur agar hasilnya sesuai harapan.

Di balik sikap tersebut, biasanya tersimpan rasa takut. Orang tua khawatir anak gagal di sekolah, terluka, dikucilkan teman, atau bahkan dinilai buruk oleh orang lain.

Sayangnya, semakin besar kontrol yang diberikan, semakin besar pula kemungkinan anak melawan. Sebagian anak akan membangkang, berdebat, atau menolak bekerja sama. Sebagian lainnya memang menurut, tetapi perlahan kehilangan kepercayaan diri karena terbiasa bergantung pada keputusan orang tua.

Alih-alih menjadi ‘bos’, orang tua sebaiknya berperan sebagai pembimbing. Berikan anak pilihan yang masih berada dalam batas yang aman. Misalnya, daripada memerintah, ‘Cepat pakai baju sekarang!’, cobalah bertanya, ‘Kamu mau ganti baju di tempat tidur atau di ruang ganti?’

Cara sederhana ini membuat anak merasa dihargai sekaligus belajar mengambil keputusan.

2. Mudah terpancing emosi

Mengasuh anak memang melelahkan. Saat anak membantah, merengek, atau tidak mau mendengarkan, emosi orang tua sering kali ikut meledak. Padahal, respons yang dipenuhi amarah justru membuat situasi semakin memanas. Anak yang sedang kewalahan dengan emosinya membutuhkan sosok dewasa yang mampu tetap tenang, bukan ikut bereaksi.

Sebagai contoh, ketika anak melempar mainan karena kesal, banyak orang tua langsung membentak atau menghukum. Sebaliknya, cobalah berhenti sejenak sebelum bereaksi. Ambil napas, lalu katakan dengan tenang, ‘Kamu sedang marah, ya? Nanti setelah tenang, kita rapikan mainannya bersama.’

Pendekatan seperti ini membantu anak belajar mengenali dan mengelola emosinya. Anak juga memahami bahwa setiap perilaku memiliki konsekuensi tanpa harus merasa dipermalukan.

3. Terlalu mengejar kepatuhan sesaat

Dalam rutinitas yang padat, orang tua sering menginginkan hasil yang instan. Anak harus segera memakai sepatu, membereskan mainan, atau masuk ke mobil tanpa banyak protes. Agar cepat menurut, sebagian orang tua menggunakan ancaman atau hukuman.

Padahal, kepatuhan sesaat belum tentu membuat anak belajar bertanggung jawab. Misalnya, saat anak menolak merapikan mainan, orang tua mengancam akan membuang semua mainannya. Anak mungkin akhirnya membereskan, tetapi melakukannya karena takut, bukan karena memahami pentingnya menjaga kerapian.

Begitu pula ketika anak menumpahkan minuman. Memarahi anak di depan orang lain mungkin membuatnya merasa malu, tetapi tidak mengajarkan cara menghadapi kesalahan dengan tenang.

Daripada berfokus pada kepatuhan instan, cobalah menjadikan setiap situasi sebagai kesempatan belajar. Misalnya, katakan, ‘Aku tahu berhenti bermain itu sulit. Yuk, kita cari cara supaya nanti lebih mudah membereskan mainan.’

Pendekatan ini mungkin membutuhkan waktu lebih lama. Namun, dalam jangka panjang, anak akan belajar bertanggung jawab, mampu memecahkan masalah, dan lebih mandiri.

(tis/tis)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Golden Samoyed]

Baca lagi: Prabowo Panggil Luhut, Chatib Basri, hingga Mari Elka ke Hambalang

Baca lagi: Kim Mu-yeol Guyon Mau Rekrut Yoon Ga-min Study Group ke BPHP

Baca lagi: OpenAI Respons Gugatan Apple yang Tuding Pencurian Rahasia Dagang

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: