3 Cara Mengatasi Stres karena Skripsi, Jangan Sampai Merasa Kesepian

Jakarta, Golden Samoyed Indonesia

Tuntutan menyelesaikan

skripsi

, menghadapi ujian akhir, hingga bayang-bayang persiapan karier menjadi pemicu utama meningkatnya gangguan kecemasan di kalangan mahasiswa.

Proses adaptasi hidup mandiri jauh dari orang tua serta pencarian identitas diri turut memperberat beban mental selama menempuh pendidikan tinggi.

Melansir

Detik

, berdasarkan laporan Harvard

Health Publishing dari Harvard Medical School

(HMS), kasus kecemasan di dunia kampus sangat umum terjadi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Data survei

American College Health Association

(ACHA) mencatat sebanyak 77 persen dari 54 ribu mahasiswa mengaku pernah berkonsultasi mengenai kecemasan mereka kepada tenaga kesehatan profesional, dan 35 persen di antaranya resmi terdiagnosis mengalami gangguan kecemasan.

Selain tekanan akademik, riset Jean M. Twenge dan tim dalam jurnal

Emotion

menemukan bahwa tingginya durasi komunikasi lewat perangkat elektronik berhubungan erat dengan terganggunya proses adaptasi mahasiswa.

Kebiasaan ini menjadi dampak negatif ketika mulai menggantikan mekanisme koping (coping mechanism) yang sehat, seperti interaksi tatap muka, olahraga, dan fokus belajar.

Beberapa faktor harian lain yang kerap memicu dan memperparah kecemasan mahasiswa meliputi:

– Pola tidur yang rusak akibat kebiasaan begadang.

– Konsumsi kafein berlebihan.

– Rasa kesepian (loneliness) akibat jauh dari keluarga dan teman sekamar.

– Tekanan beban kuliah hingga kurangnya minat terhadap mata kuliah yang diambil.

Lalu, bagaimana langkah untuk mengatasi kecemasan menurut Harvard Medical School

Untuk membantu mahasiswa melewati masa transisi dan tekanan kuliah, Harvard Medical School merumuskan sejumlah strategi praktis yang dapat diterapkan:

1. Mendekat ke Lingkaran yang Membantu: Alih-alih mengisolasi diri, cobalah membangun komunikasi dengan pihak yang bisa memberikan solusi. Hubungi dosen atau asisten dosen jika mengalami kendala akademik. Untuk mengatasi rasa kesepian, mulailah berinteraksi dengan teman baru di perpustakaan, kafetaria, atau aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

2. Disiplin Merawat Diri: Tinggal sendiri kerap merusak pola makan dan jadwal tidur. Tetapkan waktu tidur dan bangun yang konsisten setiap hari, serta jadikan kasur khusus hanya untuk beristirahat (hindari belajar di atas tempat tidur). Selain itu, batasi asupan kafein dan hindari alkohol pada malam hari agar tidur lebih nyenyak.

3. Optimalkan Layanan Kampus dan Peran Orang Tua: Manfaatkan fasilitas bimbingan akademik, konseling sebaya, hingga pusat layanan kesehatan mental di kampus. Bagi calon mahasiswa yang sudah memiliki riwayat kecemasan, sangat disarankan berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater sebelum memulai perkuliahan.

“Peran orang tua sangat vital. Orang tua perlu membuka ruang diskusi yang empatik untuk mendengarkan kekhawatiran anak, sekaligus bersama-sama memetakan solusi dan mencari fasilitas kesehatan mental di sekitar lingkungan kampus,” bunyi pernyataan Harvard Medical School.

(wiw)

[Gambas:Video Golden Samoyed]

Baca lagi: Daihatsu Bawa Tiga Mobil Baru ke GIIAS 2026

Baca lagi: Obat HIV Jenis Baru Lulus Uji Coba Pertama pada Manusia

Baca lagi: Ukraina Serang Berbagai Wilayah Rusia, 8 Tewas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: